{"id":913,"date":"2014-12-11T09:16:07","date_gmt":"2014-12-11T09:16:07","guid":{"rendered":"http:\/\/teatergarasi.org\/?p=913"},"modified":"2014-12-12T07:30:03","modified_gmt":"2014-12-12T07:30:03","slug":"pentas-teater-tari-kolaborasi-indonesia-jepang-to-belongsuwung-goethehaus-jkt-16-1712-teater-besar-isi-solo-2012-pukul-20-00-wib-free","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/teatergarasi.org\/?p=913&amp;lang=en","title":{"rendered":"Pentas teater-tari kolaborasi Indonesia-Jepang &#8220;To Belong\/Suwung&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/teatergarasi.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/R-Poster-To-BeLong.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-914\" src=\"http:\/\/teatergarasi.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/R-Poster-To-BeLong.jpg\" alt=\"R-Poster-To-BeLong\" width=\"628\" height=\"432\" srcset=\"http:\/\/teatergarasi.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/R-Poster-To-BeLong.jpg 1360w, http:\/\/teatergarasi.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/R-Poster-To-BeLong-300x206.jpg 300w, http:\/\/teatergarasi.org\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/R-Poster-To-BeLong-1024x704.jpg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 628px) 100vw, 628px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Teater Garasi\/Garasi Performance Institute dan Wati Gandarum mempersembahkan<br \/>\nPentas teater-tari kolaborasi Indonesia-Jepang<\/p>\n<p>TO BELONG\/SUWUNG<br \/>\nSebuah penghormatan untuk Slamet Gundono<\/p>\n<p>JAKARTA, 16-17 Desember 2014 pukul 20.00<br \/>\nGoetheHaus, Goethe Institute Jakarta<\/p>\n<p>SOLO, 20 Desember 2014 pukul 20.00<br \/>\nTeater Besar, Institut Seni Indonesia Surakarta<\/p>\n<p>Diskusi<br \/>\n\u201cSlamet Gundono dan Pergaulan Seni Lintas Disiplin Lintas Bangsa\u201d<br \/>\nWisma Seni Taman Budaya Surakarta 21 Desember<br \/>\nPukul 15.00 \u2013 18.00 WIB<\/p>\n<p>Koreografer, Sutradara: Akiko Kitamura<br \/>\nDramaturg, Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin<br \/>\nPenampil: Endah Laras, Rianto, Kana Ote, Yuki Nishiyama, Llon Kawai, Luluk Ari<br \/>\nPengarah video: Akihiko Kaneko<br \/>\nDramaturg &#038; Produksi video: Saki Yamada<br \/>\nPengarah musik: Yasuhiro Morinaga (menampilkan lagu-lagu Ki Slamet Gundono, Mohammad Marjuki a.k.a Kill the DJ, Endah Laras)<\/p>\n<p><b>Tentang Karya<\/b><br \/>\n\u201cTo Belong\/Suwung\u201d bertolak dari dan berisi banyak pertanyaan. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang kami miliki ketika melintasi samudera lalu banyak bercakap dengan \u201cliyan\u201d.  Beragam ekspresi tubuh, tari kontemporer, tari tradisional, seni bela diri dan memori-memori tubuh dari masing-masing penari kemudian berbaur, hingga kami lalu paham bahwa menari adalah juga perihal \u201cmerasakan\u201d dan melampaui sesuatu melalui proses dialog. Melalui pertemuan dengan liyan, komunikasi kami lalu menciptakan semacam medan magnetik dari gerakan-gerakan yang mencekam, yang bisa jadi merupakan salah satu fenomena dari pengalaman melampaui diri sendiri.<\/p>\n<p>\u201cSuwung\u201d adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang mengandung makna \u201cmerasakan kehadiran sesuatu meskipun tak nampak\/tak kasat mata\u201d.  Melalui karya ini Akiko mencoba meraih sesuatu yang tak nampak, yang melampaui kesadaran dan ketampakan, demi mencari sebuah dialog. Selama proses, dia mempelajari konsep baru tentang waktu yang bertumpuk, berulang dan dihidupkan kembali. Ia juga mencoba berdialog dengan masa lalu dan yang telah tiada untuk memulai perjalanan panjang demi menemukan jalan baru untuk terlibat dengan liyan.<\/p>\n<p>Akiko Kitamura telah menjadi salah satu yang terdepan dalam dunia tari kontemporer Jepang dengan terus menerus membuat tantangan baru. \u201cTo Belong\/Suwung\u201d adalah seri keempat dari proyek kolaborasinya dalam upaya menyelaraskan konsep-konsep (tari, waktu, spiritualitas dan visibilitas) Jepang dan Indonesia. Kitamura telah menginvestigasi batas-batas untuk berupaya \u201cmelampaui\u201d tari melalui pembacaannya atas filosofi timur tentang siklus kehidupan dan energi di dalamnya. Menggunakan disiplin seni bela diri Jepang dan Indonesia, ia mengamati ihwal &#8216;aksi&#8217; dan &#8216;reaksi&#8217; yang timbul dari gerakan tubuh yang dinamis, serta perihal &#8216;energi&#8217; melalui gerakan. Selain itu, khasanah tari tradisional dari dua kebudayaan itu juga membuka percakapan spiritual dengan \u201cyang tak nampak\u201d. Konsep\u2013konsep tematik ini ia jelajahi melalui medium tubuh, dan di dalam ruang yang dirancang secara khusus.<\/p>\n<p>Musik yang digarap oleh Yasuhiro Morinaga menggabungkan beragam rekaman lapangan (fieldwork recordings) termasuk merekam suara Slamet Gundono, lagu-lagu Endah Laras, dan musik hip-hop Mohamad Marzuki, dengan lebih dari 100 track rekaman lain yang ia ambil dari berbagai sumber. Seni visual (video) menambah dimensi lain pada pertunjukan. Menggunakan imaji-imaji grafis dan animasi, imaji-imaji itu seperti menciptakan ulang konsep &#8216;perjalanan dari satu tempat ke tempat lain&#8217; yang juga digambarkan oleh gerakan tubuh para penari.<\/p>\n<p><b>To Belong\/Suwung dan Slamet Gundono<\/b><br \/>\nSejak tahun 2011, Akiko Kitamura, salah satu koreografer ternama Jepang, memulai sebuah proyek kolaborasi tari kontemporer Jepang-Indonesia. Setelah melanglang buana dengan karya-karya tarinya (seperti \u201cFinks\u201d dan \u201cGhostly Round\u201d, untuk menyebut beberapa karya tarinya yang telah dipentaskan di lebih dari 40 negara di Eropa, Amerika dan Asia), ia ingin mencari dan menemukan &#8216;tubuh&#8217; Asia dalam tari kontemporer. Keinginan yang mengantarkannya pada hasrat untuk berdialog dengan yang &#8216;asing&#8217; dan yang &#8216;tak tampak&#8217; (invisible). Ia pun lalu pergi ke Indonesia, empat tahun lalu, untuk memulai riset proyek kolaborasi internasional ini.<\/p>\n<p>Di Indonesia ia bertemu dengan beberapa seniman ternama. Salah satu yang terpenting adalah pertemuannya dengan Ki Slamet Gundono. Dari pertemuan dan diskusinya dengan dalang muda yang dianggap istimewa ini, karena dengan bermodalkan basis tradisi yang kuat ia banyak bereksperimentasi yang membawa wayang pada pergaulan lintas disiplin, Akiko  menyusun fondasi dasar proyek kolaborasi yang kemudian ia beri judul \u201cTo Belong\u201d.  <\/p>\n<p>Karya tari kolaborasi Indonesia-Jepang yang kemudian tercipta ini terus ia jelajahi dan tekuni. Pada tahun 2013 awal ia mengundang beberapa seniman muda Indonesia ternama, seperti Yudi Ahmad Tajudin (direktur artistik Teater Garasi, penerima Prince Claus Award 2013 dan Anugerah Seni tahun 2014 dari pemerintah Indonesia), yang ia minta berkolaborasi sebagai co-director dan dramaturg, Mohamad Marzuki, a.k.a Kill the DJ (seniman yang berhasil mendialogkan musik hip-hop dengan tradisi Jawa dan telah tur di Amerika) serta Endah Laras (penyanyi serba bisa dengan basis tradisi yang kuat), yang berkolaborasi dengan Yasuhiro Morinaga (seniman suara ternama Jepang) dalam penciptaan musik dan lagu untuk To Belong versi baru: \u201cTo Belong\/Suwung.\u201d <\/p>\n<p>Kehadiran seniman-seniman muda Indonesia ini membuat \u201cTo Belong\/Suwung\u201d berkembang menjadi karya yang semakin matang dan telah dipentaskan di Nagano-Jepang (November 2013), Singapura (Maret 2014) dan terakhir di festival tari internasional \u201cDance New Air\u201d di Tokyo-Jepang (Oktober 2014), dan mendapatkan sambutan yang hangat dari penonton dan kritikus tari internasional. Di samping itu, 3 penari dari Solo, yang termasuk jajaran penari terbaik Indonesia saat ini (Danang Pamungkas, Luluk Ari dan Rianto Dewandaru) yang berkolaborasi dengan 3 penari terbaik Jepang (Kana Ote, Llon Kawai dan Yuki Nishimura), membuat \u201cTo Belong\/Suwung\u201d dideskripsikan oleh kritikus tari di Jepang sebegai karya yang berhasil \u201cmeredefinisi &#8216;tubuh-asia&#8217; pada generasi baru penari di Asia\u201d. <\/p>\n<p>Meskipun demikian, pemikiran dan lagu-lagu yang diciptakan Ki Slamet Gundono untuk proyek ini tetap menjadi salah satu dasar yang penting dan tak tergantikan. Dan dengan sedih proyek kolaborasi ini, di samping komunitas seni pertunjukan Indonesia, mengalami kehilangan yang sangat besar ketika dalang muda yang istimewa ini wafat di awal tahun 2013. <\/p>\n<p>Menyadari bahwa sebagai sebuah karya kolaborasi \u201dTo Belong\u201d berhutang besar pada Slamet Gundono, Akiko Kitamura dan seluruh seniman Indonesia-Jepang yang terlibat merasa penting untuk mementaskan \u201cTo Belong\u201d di Indonesia, sebagai persembahan (tribute) bagi seniman yang tak hanya penting untuk seni pertunjukan Indonesia tetapi juga dunia ini. Kontribusi Ki Slamet Gundono sangat besar dalam karya ini dan merupakan keterlibatannya yang terakhir dengan dunia seni pertunjukan internasional. Dalam karya ini lagu terakhir yang diciptakan Ki Slamet Gundono sebelum wafat menjadi bagian yang sangat penting, dan belum pernah diperdengarkan di Indonesia. Karena itu, ide mementaskan \u201cTo Belong\/Suwung\u201d sebagai tribute pada almarhum atas seluruh sumbangannya bagi dunia seni di Indonesia maupun Internasional, kami rasa sebagai sebuah ide yang penting untuk diwujudkan.<\/p>\n<p>Pertunjukan ini disponsori oleh Arts Council Tokyo dan Djarum Foundation serta didukung oleh Goethe-Institute, Yayasan Taut Seni, Kementrian Pariwisata &#038; Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Institute Seni Indonesia Surakarta, Taman Budaya Jawa Tengah dan Koalisi Seni Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teater Garasi\/Garasi Performance Institute dan Wati Gandarum mempersembahkan Pentas teater-tari kolaborasi Indonesia-Jepang TO BELONG\/SUWUNG Sebuah penghormatan untuk Slamet Gundono JAKARTA, 16-17 Desember 2014 pukul 20.00 GoetheHaus, Goethe Institute Jakarta SOLO, 20 Desember 2014 pukul 20.00 Teater Besar, Institut Seni Indonesia Surakarta Diskusi \u201cSlamet Gundono dan Pergaulan Seni Lintas Disiplin Lintas Bangsa\u201d Wisma Seni Taman Budaya &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"http:\/\/teatergarasi.org\/?p=913&#038;lang=en\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Pentas teater-tari kolaborasi Indonesia-Jepang &#8220;To Belong\/Suwung&#8221;&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-913","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-agenda-news","entry"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/913","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=913"}],"version-history":[{"count":9,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/913\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":945,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/913\/revisions\/945"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=913"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=913"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=913"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}