{"id":618,"date":"2014-05-02T07:55:52","date_gmt":"2014-05-02T07:55:52","guid":{"rendered":"http:\/\/teatergarasi.org\/?p=618"},"modified":"2014-05-02T08:03:42","modified_gmt":"2014-05-02T08:03:42","slug":"618","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/teatergarasi.org\/?p=618&amp;lang=en","title":{"rendered":"LIVE AT TEATER GARASI: &#8220;Requestioning Cult&#8221; | 3 Mei 2014 | 20.00"},"content":{"rendered":"<p>Setelah pekan lalu &#8216;Live at Teater Garasi\u2019 menjadi salah satu nominasi dari 5 finalis The British Council Live Music Award atas inisiatif kreatif dalam bidang Live Music di Indonesia, acara ini kembali digelar.<\/p>\n<p><strong>LIVE AT TEATER GARASI: &#8220;Requestioning Cult&#8221;<\/strong><br \/>\nmenampilkan<br \/>\n<strong>BAREFOOD<\/strong> (Jakarta) &#8211; <strong>FSTVLST<\/strong> (Jogjakarta) &#8211;<strong> WHISTLERPOST<\/strong> (Jakarta)<\/p>\n<p>Sabtu, 3 Mei 2014 pukul 20:00<br \/>\ndi Teater Garasi<br \/>\nJl. Bugisan Selatan 36A Jogjakarta<br \/>\nHTM 30K (earlybird 20k)<br \/>\nReservasi: 0877 1991 1200 atau 0857 4753 2000 (tempat terbatas)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>BAREFOOD<\/strong><\/p>\n<p>Momen perkenalan dengan Barefood adalah ketika saya masih bekerja sebagai seorang editor di sebuah majalah musik skala nasional. Tahun 2010 saat itu saya dan beberapa rekan membuat sebuah project bulanan yaitu kompilasi yang akan dijadikan sebagai bonus majalah. Kami mencari band-band bawah tanah arus liar lintas genre untuk menghiasi kompilasi tersebut. Saat itu dipertengahan tahun kami sedang merampungkan edisi keempat, tetiba perhatian saya tertuju pada sebuah web jejaring sosial khusus musik milik sebuah band asal timur Jakarta ini. Saya begitu terkesan dengan sebuah track demo live berjudul \u201cBreath\u201d mendengarkannya seperti mencium darah segar indie rock bergaya 90-an.<\/p>\n<p>Tiga tahun telah berlalu Barefood kini telah menancapkan tajinya lewat mini albumnya, Sullen EP. Nafas era \u201cAlternative\u201d 90-an yang kental, injeksi fuzz distorsi sana-sini, penambahan formula gaya power pop macam The Posies ataupun Teenage Fanclub era awal, hibrida gaya slebor J. Mascis dengan estetika sentimentil a la Evan Dando membuat E.P ini begitu menarik. Lewat sleeve cover yang mengingatkan saya akan Nick Drake album Bryter Layter ini, telah tersaji lima track yang sempurna dan saya rasa sangat cukup untuk mewakili gejolak 90\u2019s indie rock revival saat ini. Rilisnya Sullen telah membuat Tuhan Rock tersenyum dan Barefood telah bersiap untuk menendang pantat kalian!<\/p>\n<p><em>(Alvin Yunata, sang pendawai gitar Teenage Death Star)<\/em><br \/>\n<strong>FSTVLST<\/strong><\/p>\n<p>Mengenal dua personil FSTVLST Faridstevy dan Roby tidak hanya dari musiknya, namun inisiatif mereka di seni rupa sepertinya menguatkan persepsi kita terhadap band ini. Juga ketika beberapa kali melihat konser mereka ketika bernama Jenny. Sepenggal pernyataan yang saya kutip dari Farid \u201ckami sebenarnya kalau di bilang rock juga bukan rock banget, kalau dibilang alternative, juga kayaknya tidak begitu nyambung, jadi untuk menjaga nama baik genre atau aliran yang sudah ada, kami membuat terobosan baru dengan menamai aliran kami sendiri, yaitu \u201calmost rock balery art\u201d, atau dalam arti simpelnya, \u201cseperti rock hampir seni\u201d. Karena mungkin seni itu tidak bisa dipisahkan dengan kami yang berlatar belakang dari dunia seni itu sendiri\u201d.<br \/>\nKetiga pengalaman di atas seolah mengafirmasi persepsi saya terhadap FSTVLST. Saya lebih<br \/>\nsuka mendefinisikan musik mereka di antara rock, garage, dan terkadang folk, yang menurutku tidak begitu salah ketika ditabrakkan dengan pernyataan Farid tentang FSTVLT.<br \/>\nTapi bukan hanya itu yang kerap muncul ketika berbicara ttg FSTVLT, bukan juga kerja penulisan dalam lirik yang berusaha menegosiasi kenyataan yang gamblang, batas koridor musikalitas, serta laku kesenian (artistry). FSTVLST adalah pintu masuk utama ketika kita membahas &#8216;cult&#8217;. Di skena musik Yogyakarta (yang berbeda dengan Jakarta), persinggungan mereka tidak hanya pada penonton setia namun &#8216;space based cult&#8217; yang di Jakarta representasi pada &#8216;Parc&#8217; era 2000&#8217;an awal-pertengahan, namun dikotomi Utara-Selatan Yogyakarta dimana FSTVLST kontributif menghilangkan space based cult yang baru tersadar pernah ada ketika saya mengobrol dengan Farid pada sebuah sore di Jogja (tanpa menyebut lagi Jogja bagian mana)<\/p>\n<p><em>(Risky Summerbee, frontman Risky Summerbee &amp; the Honeythief)<\/em><br \/>\n<strong>WHISTLERPOST<\/strong><\/p>\n<p>Term musik Shoegaze selama ini lekat kaitannya dengan perasaan kesepian, keterasingan dan juga kegelapan. Namun band asal Jakarta, Whistler Post membawa term musik Shoegaze pada tingkatan yang lain. Dengan menggabungkan distorsi gitar yang menumpuk dengan alunan vokal wanita yang terdengar lugu dan menggemaskan. Musik Whistler Post yang memiliki intensitas gitar memang kerap diberi label Shoegaze oleh banyak kalangan. Namun mereka meramunya dengan nafas Britpop yang elegan dan kenaifan ala musik indiepop yang dibungkus oleh lirik-lirik lagu yang ringan yang menceritakan mengenaikeseharian.<br \/>\nWhistler Post dibentuk oleh gitaris Andi \u2018Hans\u2019 Sabarudin di tahun 2008 karena lagu-lagu yang ia ciptakan untuk C\u2019mon Lennon dan Blossom Diary (dua band Hans sebelum ini) banyak yang tidak terpakai.<br \/>\nDengan pengaruh dari band-band Inggris era 90an seperti Lush, Ride dan Chapterhouse, Hans lalu mengajak Tania Ranidhianti untuk mengisi vokal. Lalu Hans mengajak ketiga rekan lainnya, Cassandra sebagai gitaris, Adi Sus sebagai bassist dan Haris Prasetyo sebagai drummer. Dua nama terakhir sebelumnya tergabung dengan band Jepit Rambut dan Noisy Trip.<br \/>\nLagu \u201cSebastian Says\u201d menjadi lagu pertama yang mereka rekam di bawah nama Whistler Post. Lagu ini beredar di publik sebagai bonus CD untuk penjualan merchandise Whistler Post yang dirilis oleh Don\u2019t Fade Away (DFA) Records yang kini merilis debut album Whistler Post di bulan September 2013. Album debut self titled ini berisi 8 track yang direkam di tiga studio berbeda dalam kurun waktu 5 tahun. Lagu \u2018Sing Me Loud\u201d dipilih menjadi single pertama dari album ini.<br \/>\n\u201cLagu \u201cSing Me Loud\u201d lahir saat saya sedang menggemari band asal Jepang namanya Luminous Orange. Pada kelanjutannya, musik Whistler Post terinspirasi dari musik mereka. Salah satunya dengan terciptanya \u201cSing Me Loud\u201d ini yang menggambarkan musik dari Whistler Post saat ini yang sebenernya yang tidak sepenuhnya memainkan jenis musik shoegaze,\u201d tukas Hans.<br \/>\nLagu lain dalam album ini yang tidak sepenuhnya memiliki elemen shoegaze dapat disimak pada lagu \u201cWhen The Night Comes\u201d yang terdengar cerah dengan alunan vokal latar bersahutan dan juga pada track pembuka album \u201cBetter Days\u201d yang diciptakan gitaris Cassandra yang menampilkan paduan vokal wanita dan pria yang manis.<br \/>\nAlbum ini mencapai puncaknya di lagu \u201cTill The End\u201d yang memiliki durasi paling lama dibandingkan lagu lain dalam album. Paruh akhir lagu ini dipenuhi oleh melodi gitar dari Hans yang disusupi oleh gemuruh musikal dari band Chapterhouse.<br \/>\nPada akhirnya Whitler Post melalui album debut mereka ini sukses dalam menyajikan musik berbasis gitar yang terdengar indah dengan sensibilitas pop yang kuat.<\/p>\n<p><em>(Dimas Ario, pengamat musik)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah pekan lalu &#8216;Live at Teater Garasi\u2019 menjadi salah satu nominasi dari 5 finalis The British Council Live Music Award atas inisiatif kreatif dalam bidang Live Music di Indonesia, acara ini kembali digelar. LIVE AT TEATER GARASI: &#8220;Requestioning Cult&#8221; menampilkan BAREFOOD (Jakarta) &#8211; FSTVLST (Jogjakarta) &#8211; WHISTLERPOST (Jakarta) Sabtu, 3 Mei 2014 pukul 20:00 di &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"http:\/\/teatergarasi.org\/?p=618&#038;lang=en\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;LIVE AT TEATER GARASI: &#8220;Requestioning Cult&#8221; | 3 Mei 2014 | 20.00&#8243;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-618","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-agenda-news","entry"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=618"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":621,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions\/621"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/teatergarasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}