Kabar Garasi #Juni2015

YFaWKA

Pertunjukan perdana “Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi.” Baru saja selesai. Terimakasih atas kedatangan dan apresiasi para penonton yang telah hadir dalam 2 malam pertunjukan di PKKH UGM. Terimakasih juga kami sampaikan kepada jajaran pengurus PKKH UGM atas kerja samanya. Juga terimakasih kepada Djarum Foundation atas dukungannya kepada karya kami tersebut. Semoga karya ini bisa kami kelilingkan ke banyak tempat dan bertemu dengan lebih banyak lagi penonton.

Saat ini, setelah beristirahat sejenak dari kerja “Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi.” Teater Garasi/Garasi Performance Institute segera beranjak ke kerja-kerja berikutnya. Kerja kami paling dekat adalah Workshop Seni Peran dan Penulisan Cerita. Bekerja sama dengan Arslonga.id kami akan menggelar Workshop Seni Peran dan Penulisan di Jakarta. Workshop akan berlangsung pada tanggal 8-10 Juli 2015.

Berbarengan dengan itu kami tengah menyiapkan 2 karya pertunjukan yang lain. Yakni “Je.ja.l.an” dan “100% Yogyakarta

“Je.ja.l.an” adalah karya kami pada tahun 2008. Dan saat ini tengah kami garap ulang dan akan kami pentaskan pada bulan September 2015 di Australia. Sedangkan “100% Yogyakarta” adalah bagian dari Proyek 100% (City) oleh Rimini Protokoll dan diproduksi bersama Teater Garasi di Yogyakarta. Dalam produksi ini Rimini Protokol dan Teater Garasi akan mewujudkan potret hidup Yogyakarta. Seratus orang warga Yogyakarta, masing-masing sebagai representasi atas 1% populasi, akan dipilih berdasarkan kriteria spesifik yang merefleksikan tampilan demografis kota Yogyakarta. 100 partisipan dari semua lapisan masyarakat Yogyakarta akan hadir di panggung, menunjukan bagaimana mereka berpikir, merasa dan bertingkah laku, dalam sebuah pertunjukan yang sebagian kenyataan, sebagian teater dan 100% Yogyakarta.
Demikian sedikit kabar dari kami. Sekali lagi terimakasih atas dukungannya pada kerja-kerja kami.

Pertunjukan Perdana: Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi. 23-24 Juni 2015 di PKKH UGM

YFaWKA

Premiere: June 23 – 24, 2015 8.30 PM at Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri/PKKH, Bulaksumur, UGM, Yogyakarta

Directed by: Yudi Ahmad Tajudin.

Collectively created by: (in alphabetical order) Ari Dwianto, Arsita Iswardhani, Erythrina Baskoro, Gunawan Maryanto, Ignatius Sugiarto, Jompet Kuswidananto, MN Qomaruddin, Naomi Srikandi, Sri Qadariatin, Ugoran Prasad, Vassia Valkanioti, Yennu Ariendra

Assisted by: Muh Rasyid Ridlo, Purwoko, Samuel Payo Sinuraya dan Warsito. Costume: Gemailla Gea Geriantiana. Producer assistant: Lusia Neti Cahyani

Producer:
Yudi Ahmad Tajudin

Produced by: Teater Garasi/Garasi Performance Institute. In partnership with: PKKH UGM. Supported by: Bakti Budaya Djarum Foundation

TICKET

Presale: — until June 17, 2015: Rp 50.000 Students: Rp 25.000
Normal price: June 18, 2015 — until the showing days: Rp 70.000 Students: Rp 35.000
Limited seats: 200 audiences per-show

Reservation: (Lusi) 0878 3929 8113

TIME IS TRANSIENT. WE ARE ETERNAL

Time is Transient. We are Eternal is Teater Garasi/Garasi Performance Institute’s newest production, which departs from the reading and reflection of order and disorder.

The production, directed by Yudi Ahmad Tajudin, is a further exploration and a development of Teater Garasi’s collective art projects since 2008 that include Je.ja.l.an (The Streets) and Tubuh Ketiga (Third Body), which are an attempt to investigate how the explosion of voices and narratives (ideology, religion, and identity) in post-1998 Indonesia has created and unveiled tension and violence—both new and latent.

After our exploration and presentation of the theme through The Streets (2008) and Third Body (2010), Time is Transient. We are Eternal is a more reflective journey to the inner world, the interior of the theme. The piece wants to see and perform how the post-1998 situations in Indonesia affect the new situation and formation of subject(ivities). In other words, how the explosion of voices and narratives in post-1998 Indonesia interrupt, disturb, shape and move the “subjects.”

Before arriving at the more complete presentation, which will be premiered on June 23 and 24, 2015, our investigation has resulted in a short performance (30 minutes), titled Sehabis Suara (After the Voices), staged in Erasmus Huis in Jakarta on March 26, 2014. The work-in-progress performance was part of the ceremony in which Teater Garasi received Prince Claus Award from the then Dutch Ambassador to Indonesia Tjeerd de Zwaan.

The incipient performance received a warm welcome from the audience and the media. The public reception has become an important encouragement for Teater Garasi to develop After the Voices into a deeper, full performance. And we changed the title into: Time is Transient. We are Eternal. We borrow the words from Sapardi Djoko Damono’s 1978 poem title, because we think that the poem title is an apt representation of our work.

Live at Teater Garasi Konser perdana Bonita & the hus BAND di Yogyakarta 24 April 2015, 19:30 WIB

Event musik ‘Live at Teater Garasi’ akan kembali digelar Jumat 24 April 2015 dengan menampilkan kelompok bonita & the hus BAND.

Bonita & the Hus Band adalah salah satu dari sedikit musisi indie yang berkiprah dengan format akustik, namun tetap optimal dalam mengemas musikalitas Soul dan R&B.

Kelompok yang digawangi vokalis Bonita Adi ini akan membawakan lagu lagu mereka dari dua album yang sudah dirilis oleh Rumah Bonita dan Demajors. Kwartet folk, jazz yang juga kental dengan musikalitas Soul dan Rhythm and Blues (R&B) ini untuk pertama kalinya tampil di Jogja pada Jumat nanti. Konser intim yang digelar Teater Garasi ini adalah rangkaian tur mereka di kota-kota Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebelumnya Bonita & the Hus Band pernah menggelar konser mereka antara lain di Esplanade, Singapore dan Salihara, Jakarta.

Live at Teater Garasi (LATG) merupakan suatu ajang pertemuan antara pelaku dan penikmat musik indie untuk saling mengapresiasi karena senyatanyalah sebagian besar grup musik / penyanyi solo diluar mayor label dapat hidup, berkembang, dan menjadi besar atas dukungan dari komunitas dan penikmatnya.

Sejak 2009, LATG sudah menghadirkan beberapa kelompok musisi seperti Risky Summerbee & the Honeythief, Belkastrelka, Ned Branchi (AUS), Ken Stringfellow (USA), Brilliant at Breakfast, Sarita Fraya, Stars and Rabbit, Melancholic Bitch, Dialog Dini Hari, White Shoes and the Couples Company, Adrian Adioetomo, Wangi Hujan, Adhitia Sofyan, Endah n Rhesa, Barefood , FSTVLST dan Whistlerpost . Selain itu sebagai mewujudkan konsep berbagi pengalaman LATG juga pernah memfasilitasi artist talk Tika and the Dissidents, presentasi Tomi Simatupang, serta diskusi skena musik Indonesia.

HTM : Rp 25.000 (pre sale only)
RSVP : Galuh di 0817 410 5154

Teater Garasi / Garasi Performance Institute
Nitiprayan 164B Ngestiharjo Kasihan Bantul Yogyakarta

Malam Pembacaan Cerita “5 Cinta Pada 1 Malam”

poster 5 cinta pada 1 malam

Malam Pembacaan Cerita
5 Cinta Pada 1 Malam
14 Februari 2015 Pukul 19.30 WIB
Garasi Performance Institute
Nitiprayan 164B Jogjakarta

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Garasi Performance Institute kembali menggelar pembacaan karya sastra terpilih secara rutin. Kali ini secara khusus Malam Pembacaan Cerita akan menghadirkan lima orang penulis cerita terkini Indonesia: Agus Noor, Gunawan Maryanto, Komang Ira Puspita, Naomi Srikandi dan Puthut EA. Lima penulis dengan gaya dan pendekatan yang berbeda ini untuk pertama kalinya akan berbagi panggung dan membacakan sendiri cerita-cerita mereka. Dalam 5 Cinta Pada 1 Malam mereka akan berbagi cintanya pada dunia dan kenyataan-kenyataan yang melingkupinya, cintanya pada sesama, dan cintanya pada dunia sastra yang telah sekian lama mereka geluti. Di sela-sela pembacaan akan diberlangsungkan obrolan ringan perihal proses kreatif dan cerita-cerita yang dibacakan. Di samping pembacaan akan digelar pula bursa buku sastra.

5 Cinta Pada 1 Malam adalah seri pertama malam pembacaan sastra yang akan rutin digelar di Garasi Performance Institute di tahun 2015.

Biodata Penulis

Agus Noor menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain, Memorabilia, Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia), Matinya Toekang Kritik, Potongan Cerita di Kartu Pos, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan, dan yang terkini: Cerita buat Para Kekasih

Gunawan Maryanto adalah seorang sutradara, aktor dan penulis. Lahir di Jogjakarta, 10 April 1976. Bekerja sebagai Associate Artistic Director di Garasi Performance Institute. Bukunya yang telah terbit antara lain Waktu Batu (naskah lakon, ditulis bersama Andre Nur Latif dan Ugoran Prasad), Bon Suwung, Galigi, Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya, Usaha Menjadi Sakti, Sejumlah Perkutut Buat Bapak—mendapatkan Hadiah Sastra Khatulistiwa, The Queen of Pantura dan yang terbaru: Pergi ke Toko Wayang

Komang Ira Puspita lahir di Denpasar, 31 Mei 1986. Sedang menekuni dunia teater. Aktif sebagai relawan komunitas Blood for Others region Jogja (@bfojogja). Kini menetap di Yogyakarta. Puisi dan cerpen telah dimuat di beberapa media massa seperti Bali Pos, Kompas, Tempo, Jurnal Puisi, Block Note, Paradox, Culture Magazine, Jurnal Sundih, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Padang Ekpress. Bukunya yang terbaru: Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu.

Naomi Srikandi telah menjadi aktor Teater Garasi sejak tahun 1994, ketika ia belajar Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Salah satu karya fiksinya terpilih dalam 20 Cerpen Terbaik Indonesia dan diterbitkan oleh Pena Kencana Literary Awards dan Gramedia Pustaka Utama (2008 dan 2009). Pada 2010 dan 2011, Naomi menerima hibah EWA Yayasan Kelola untuk proyek-proyek penampilannya Medea Media dan Goyang Penasaran. Naomi pun pernah mengikuti residensi seniman yang diselenggarakan oleh Nottle Theatre Company- Hooyong Performing Arts Centre, DasArts Master School of Theatre, Amsterdam pada 2012.

Puthut EA lahir di Rembang, 28 Maret 1977. Ia telah banyak menulis buku. Ia juga menyunting buku, dan terlibat beberapa proyek penelitian, dengan tema mulai dari sejarah, kebudayaan, pendidikan, politik lokal, sampai kesehatan. Bukunya yang telah terbit di antaranya Sebuah Kitab yang Tak Suci, Dua Tangisan pada Satu Malam, Isyarat Cinta yang Keras Kepala, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, Sarapan Pagi Penuh Dusta, Kupu-Kupu Bersayap Gelap, Orang-orang yang bergegas, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu dll