AFTER VOICES | Jompet Kuswidananto | Sherman Contemporary Art Foundation, Sydney | 24 Juni -10 September 2016

Salah satu seniman kami, Jompet Kuswidananto, akan menggelar pameran tunggal karya-karyanya dalam tajuk AFTER VOICES di Sherman Contemporary Art Foundation, Sydney.
Pameran yang dikuratori Alia Swastika ini akan berlangsung sejak tanggal 24 Juni sampai 10 September, 2016.

Informasi lebih jauh bisa dilihat di tautan ini:
http://sherman-scaf.org.au/exhibition/jompet-kuswidananto-after-voices/

 

Wondering Wonderland | 26-29 Mei 2016

Wondering Wonderland is a mini festival concluding new works-in-progress from Teater Garasi’s artist collective. While enjoying Jompet Kuswidananto’s new visual works, we invite you to go along with Gunawan Maryanto’s close reading of Sukra’s Eyes – a short story anthology which was first published at the 2015 Frankfurt Book Fair. Contemporary Music lovers may pose appreciation to Yennu Ariendra’s piece ‘Menara Ingatan’. Meanwhile, Teater Garasi’s collective piece, “Yang Fana Adalah Waktu. Kita Abadi” (Time is transcient, We are Eternal) – currently being re-processed for a performance in Jakarta at the end of July – will be presented into three fragments under the title “Paradise Now”. For those who relish traditional performing arts will be able to enjoy a variety of traditional Javanese music and dance. Spare a spell to celebrate ‘Wondering Wonderland’ at Teater Garasi 26-29 May 2016. Cu there!

‘Yang Tegak Yang Jatuh’
Special Presentation by Jompet Kuswidananto
Opening: 26 May 2016 – 1 PM
Exhibition runs: 26 – 29 May 2016

Mata Sukra and Other Tales
Gunawan Maryanto
Book Launching and Reading Performance
Thursday, 26 May 2016
3PM

Menara Ingatan
Contemporary Music by Yennu Ariendra
Friday, 27 May 2016
4.30 PM

Paradise Now!
3 Fragments newest work by Teater Garasi
Saturday, 28 May 2016
3 PM | 5 PM | 7 PM

Traditional Music and Dance
Nitiprayan Village Artists
Sunday, 29 May 2016
3 PM – 9 PM

Nitiprayan Mini Bazaar
26 – 29 May 2016

100% Yogyakarta. Rimini Protokoll bersama Teater Garasi dan Seratus Warga Yogyakarta. 31.10 & 01.11.2015

Tentang 100% YOGYAKARTA
“100% Yogyakarta” adalah sebuah pertunjukan tentang kota Yogya yang disampaikan oleh 100 orang warganya dan ditonton oleh kita, warga Yogya, atau yang tertarik pada keistimewaan dan masalah-masalah kota Yogya.

100 orang warga Yogyakarta, masing-masing akan tampil sebagai representasi atas 1% populasi. Mereka dipilih berdasarkan kriteria spesifik yang merefleksikan tampilan demografis kota Yogyakarta.

100 orang warga terpilih itu mewakili kelompok usia dan latar belakang yang beragam, diambil dari semua lapisan masyarakat Yogyakarta, mewakili 15 kecamatan di DIY. Dari petani, tukang parkir, PNS, wartawan, hingga pelajar SD. Dari yang miskin, hingga yang super kaya. Mewakili berbagai etnis, gender, dan juga agama, mereka akan hadir di panggung, menunjukan bagaimana mereka berpikir, merasa dan bertingkah laku. Dalam sebuah pertunjukan yang sebagian kenyataan, sebagian teater dan 100% Yogyakarta.

“100% Yogyakarta” diwujudkan oleh kerja sama antara kolektif Jerman, Rimini Protokoll, dengan Teater Garasi dan 100 warga Yogya terpilih. Didukung oleh German Season Goethe Institut, Taman Budaya Yogyakarta, dan Dinas Kebudayaan DIY.

Penelitian dan pemilihan warga dilakukan oleh Teater Garasi bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center.

Penyelenggaraan
Tanggal : 31 Oktober dan 1 November 2015
Waktu : 19.30 WIB
Tempat : Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta

Pertunjukan The Streets (Je.ja.l.an) Karya Teater Garasi/Garasi Performance Institute di Festival OzAsia, Adelaide, Australia 24 -26 September 2015

Pada bulan September, tepatnya 24 -26 September 2015, Teater Garasi/Garasi Performance Institute akan mementaskan pertunjukan The Streets (Je.ja.l.an) di OzAsia Festival di Adelaide, Australia. Pertunjukan yang disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin ini sebelumnya telah dipentaskan di Yogyakarta dan Jakarta tahun 2008 dan di Shizuoka dan Osaka, Jepang, 2010.

Sebagai sebuah penjelajahan tematik dan artistik The Streets (Je.ja.l.an) telah menempuh perjalanan yang panjang dan menghasilkan nomor-nomor pertunjukan yang lain seperti Tubuh Ketiga (2010) dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (2015). Sebagai nomor pertunjukan The Streets (Je.ja.l.an) pun terus tumbuh dan digarap ulang—salah satunya untuk pertunjukan di Adelaide nanti.

OzAsia Festival sendiri adalah adalah festival seni pertama di Australia yang bertujuan untuk memperkenalkan seni dan praktik kebudayaan terbaik dari seluruh wilayah Asia. Diselenggarakan secara berkala di bulan September, festival yang berlangsung sepanjang dua minggu ini menghadirkan rupa-rupa seni pertunjukan, seni rupa dan film kontemporer.

The Streets (Je.ja.l.an) adalah salah satu sajian utama dari program tahun ini. Sebuah lensa artistik untuk meneropong masyarakat Indonesia, khususnya problematika masyarakat urban, dan sekaligus mengenalkan kepada publik Australia sebuah karya dari salah satu teater terdepan di Indonesia saat ini.

Sinopsis The Streets (Je.ja.l.an)
The Streets (Je.Ja.l.an) adalah pertunjukan tentang ruang yang tidak hanya memapar lalu lalang kendaraan dan barang tetapi juga sesilangan cerita, tabrakan dan negosiasi budaya.

Bukan sekadar jalan setapak dari satu tempat menuju tempat lain, jalan-jalan di kota-kota besar di Indonesia adalah situs dan arsip sejarah peristiwa-peristiwa yang mengubah dan menyusun Indonesia. Sejarah yang gelap atau agung, disembunyikan atau diungkap.

Hari ini, jalan-jalan di kota-kota besar di Indonesia telah menjadi panggung kontestasi dan negosiasi antara yang modern dan yang tradisional, yang elit dan umum, serta mereka yang berada di belakang dan di depan globalisasi.

Sebuah panggung yang memapar kenyataan yang disusun oleh beragam narasi, gerak-gerak simultan, urutan yang tumpang tindih, dan imaji-imaji menohok yang kadang aneh dan komikal.

The Streets (Je.Ja.l.an) dirancang untuk merekonstruksi lingkungan yang nyata dan gambar visual yang dapat ditemui di jalan-jalan kota-kota besar di Indonesia. Lingkungan di mana penonton tidak hanya bisa melihat tetapi juga mengalami kehidupan di jalan di kota-kota besar di Indonesia. Musisi jalanan, pedagang asongan, tukang koran, seorang pengkhotbah yang marah, pekerja kantor tengah menunggu bus, Satpol PP yang menegakkan aturan dan waria yang tinggal di pinggiran, mereka semua berbagi jalan.

Pendukung Pertunjukan The Streets (Je.ja.l.an)

Sutradara/Koreografer: Yudi Ahmad Tajudin Aktor/Penari: Ajeng Soelaeman, Ari Dwianto, Arsita Iswardhani, Erythrina Baskoro, Gunawan Maryanto, MN Qomaruddin, Sri Qadariatin, Vassia Valkanioti, Wangi Indriya. Karya Instalasi: Mella Jaarsma Penata Musik: “Risky Summerbee and The Honeythief”: Risky Summerbee, Erwin Zubiyan, Doni Kurniawan, Widihasmoro Risang, Yuda Hasfari Sagala Penata Cahaya: Ignatius Sugiarto a.k.a Clink Tata Kelola Panggung: Lusia Neti Cahyani Manajer Keliling: Galuh Asti Wulandari Kru Panggung: Ega Kuspriyanto

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Galuh Asti Wulandari (08174105154)

Tautan:
https://www.adelaidefestivalcentre.com.au/ozasia-festival/shows/the-streets/

WYST #02: Out Hear Public Presentation

WYST#02

WYST #02: Out Hear
Public Presentation
Sabtu, 11 Juli 2015, 20.30 WIB.
Teater Garasi/Garasi Performance Institute

Adalah sebuah presentasi/pertunjukan untuk umum yang dihasilkan dari dua hari workshop di Teater Garasi/Garasi Performance Institute. Pertunjukan ini adalah sebuah upaya menyusun komposisi dengan cara improvisasi yang menekankan interaksi sebagai salah satu unsur penting di dalamnya. Interaksi dalam hal ini adalah bagaimana berinteraksi dengan alam sekitar dan dengan penampil yang lain. Interaksi dalam hal ini adalah sebuah permainan tarik ulur di mana seseorang dapat menjadi penggagas bunyi, mengambil respon atas bunyi atau bahkan hanya diam. Dinamika komposisi dikembangkan dengan mengambil prinsip akustik dari alam, di mana sumber suara muncul dari mana saja baik secara acak maupun teratur, seperti kerumunan atau fenomena-fenomena suara yang lain di kehidupan sehari-hari.

Sumber bebunyian dikembangkan dari beberapa benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Pembuatan dan modifikasi instrumen mengarah tidak hanya pada suara yang dihasilkan, tetapi juga pada ide yang melatarinya. Pertunjukan ini juga menampilkan beberapa instalasi suara oleh Dale Gorfinkel.

Experiment lab bersama Dale Gorfinkel kali ini melibatkan beberapa seniman lokal,
antara lain (dalam urutan abjad):
Andi Meinl (Kartun)
Andreas Siagian
Arsita Iswardani
Asa Rahmana
Budi Prakoso
Debby Selviana (Jane Nate)
Ikbal S. Lubys
Indra Menus
Jay Afrisando
Juno Margana Putra
Kiat Istiqamah
Lintang Radittya
M.N. Qomaruddin
Riska Farasonalia
Sandi Kalifadani

Proses difasilitasi oleh Dale Gorfinkel
Dikurasi oleh Yennu Ariendra

WYST (What’s Your Story Of Today) adalah proyek laboratorium kesenian yang berfokus pada media suara atau bentuk-bentuk lain yang berkaitan dengan suara. Laboratorium ini memfasilitasi berbagai percobaan di mana seseorang seniman dapat melakukan penjelajahan yang lebih jauh dari apa yang selama ini biasa dilakukan.

Acara ini terselenggara atas kerjasama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Lifepatch dan Pintukecillab