LIVE AT TEATER GARASI: “Requestioning Cult” | 3 Mei 2014 | 20.00

Setelah pekan lalu ‘Live at Teater Garasi’ menjadi salah satu nominasi dari 5 finalis The British Council Live Music Award atas inisiatif kreatif dalam bidang Live Music di Indonesia, acara ini kembali digelar.

LIVE AT TEATER GARASI: “Requestioning Cult”
menampilkan
BAREFOOD (Jakarta) – FSTVLST (Jogjakarta) – WHISTLERPOST (Jakarta)

Sabtu, 3 Mei 2014 pukul 20:00
di Teater Garasi
Jl. Bugisan Selatan 36A Jogjakarta
HTM 30K (earlybird 20k)
Reservasi: 0877 1991 1200 atau 0857 4753 2000 (tempat terbatas)

 

BAREFOOD

Momen perkenalan dengan Barefood adalah ketika saya masih bekerja sebagai seorang editor di sebuah majalah musik skala nasional. Tahun 2010 saat itu saya dan beberapa rekan membuat sebuah project bulanan yaitu kompilasi yang akan dijadikan sebagai bonus majalah. Kami mencari band-band bawah tanah arus liar lintas genre untuk menghiasi kompilasi tersebut. Saat itu dipertengahan tahun kami sedang merampungkan edisi keempat, tetiba perhatian saya tertuju pada sebuah web jejaring sosial khusus musik milik sebuah band asal timur Jakarta ini. Saya begitu terkesan dengan sebuah track demo live berjudul “Breath” mendengarkannya seperti mencium darah segar indie rock bergaya 90-an.

Tiga tahun telah berlalu Barefood kini telah menancapkan tajinya lewat mini albumnya, Sullen EP. Nafas era “Alternative” 90-an yang kental, injeksi fuzz distorsi sana-sini, penambahan formula gaya power pop macam The Posies ataupun Teenage Fanclub era awal, hibrida gaya slebor J. Mascis dengan estetika sentimentil a la Evan Dando membuat E.P ini begitu menarik. Lewat sleeve cover yang mengingatkan saya akan Nick Drake album Bryter Layter ini, telah tersaji lima track yang sempurna dan saya rasa sangat cukup untuk mewakili gejolak 90’s indie rock revival saat ini. Rilisnya Sullen telah membuat Tuhan Rock tersenyum dan Barefood telah bersiap untuk menendang pantat kalian!

(Alvin Yunata, sang pendawai gitar Teenage Death Star)
FSTVLST

Mengenal dua personil FSTVLST Faridstevy dan Roby tidak hanya dari musiknya, namun inisiatif mereka di seni rupa sepertinya menguatkan persepsi kita terhadap band ini. Juga ketika beberapa kali melihat konser mereka ketika bernama Jenny. Sepenggal pernyataan yang saya kutip dari Farid “kami sebenarnya kalau di bilang rock juga bukan rock banget, kalau dibilang alternative, juga kayaknya tidak begitu nyambung, jadi untuk menjaga nama baik genre atau aliran yang sudah ada, kami membuat terobosan baru dengan menamai aliran kami sendiri, yaitu “almost rock balery art”, atau dalam arti simpelnya, “seperti rock hampir seni”. Karena mungkin seni itu tidak bisa dipisahkan dengan kami yang berlatar belakang dari dunia seni itu sendiri”.
Ketiga pengalaman di atas seolah mengafirmasi persepsi saya terhadap FSTVLST. Saya lebih
suka mendefinisikan musik mereka di antara rock, garage, dan terkadang folk, yang menurutku tidak begitu salah ketika ditabrakkan dengan pernyataan Farid tentang FSTVLT.
Tapi bukan hanya itu yang kerap muncul ketika berbicara ttg FSTVLT, bukan juga kerja penulisan dalam lirik yang berusaha menegosiasi kenyataan yang gamblang, batas koridor musikalitas, serta laku kesenian (artistry). FSTVLST adalah pintu masuk utama ketika kita membahas ‘cult’. Di skena musik Yogyakarta (yang berbeda dengan Jakarta), persinggungan mereka tidak hanya pada penonton setia namun ‘space based cult’ yang di Jakarta representasi pada ‘Parc’ era 2000’an awal-pertengahan, namun dikotomi Utara-Selatan Yogyakarta dimana FSTVLST kontributif menghilangkan space based cult yang baru tersadar pernah ada ketika saya mengobrol dengan Farid pada sebuah sore di Jogja (tanpa menyebut lagi Jogja bagian mana)

(Risky Summerbee, frontman Risky Summerbee & the Honeythief)
WHISTLERPOST

Term musik Shoegaze selama ini lekat kaitannya dengan perasaan kesepian, keterasingan dan juga kegelapan. Namun band asal Jakarta, Whistler Post membawa term musik Shoegaze pada tingkatan yang lain. Dengan menggabungkan distorsi gitar yang menumpuk dengan alunan vokal wanita yang terdengar lugu dan menggemaskan. Musik Whistler Post yang memiliki intensitas gitar memang kerap diberi label Shoegaze oleh banyak kalangan. Namun mereka meramunya dengan nafas Britpop yang elegan dan kenaifan ala musik indiepop yang dibungkus oleh lirik-lirik lagu yang ringan yang menceritakan mengenaikeseharian.
Whistler Post dibentuk oleh gitaris Andi ‘Hans’ Sabarudin di tahun 2008 karena lagu-lagu yang ia ciptakan untuk C’mon Lennon dan Blossom Diary (dua band Hans sebelum ini) banyak yang tidak terpakai.
Dengan pengaruh dari band-band Inggris era 90an seperti Lush, Ride dan Chapterhouse, Hans lalu mengajak Tania Ranidhianti untuk mengisi vokal. Lalu Hans mengajak ketiga rekan lainnya, Cassandra sebagai gitaris, Adi Sus sebagai bassist dan Haris Prasetyo sebagai drummer. Dua nama terakhir sebelumnya tergabung dengan band Jepit Rambut dan Noisy Trip.
Lagu “Sebastian Says” menjadi lagu pertama yang mereka rekam di bawah nama Whistler Post. Lagu ini beredar di publik sebagai bonus CD untuk penjualan merchandise Whistler Post yang dirilis oleh Don’t Fade Away (DFA) Records yang kini merilis debut album Whistler Post di bulan September 2013. Album debut self titled ini berisi 8 track yang direkam di tiga studio berbeda dalam kurun waktu 5 tahun. Lagu ‘Sing Me Loud” dipilih menjadi single pertama dari album ini.
“Lagu “Sing Me Loud” lahir saat saya sedang menggemari band asal Jepang namanya Luminous Orange. Pada kelanjutannya, musik Whistler Post terinspirasi dari musik mereka. Salah satunya dengan terciptanya “Sing Me Loud” ini yang menggambarkan musik dari Whistler Post saat ini yang sebenernya yang tidak sepenuhnya memainkan jenis musik shoegaze,” tukas Hans.
Lagu lain dalam album ini yang tidak sepenuhnya memiliki elemen shoegaze dapat disimak pada lagu “When The Night Comes” yang terdengar cerah dengan alunan vokal latar bersahutan dan juga pada track pembuka album “Better Days” yang diciptakan gitaris Cassandra yang menampilkan paduan vokal wanita dan pria yang manis.
Album ini mencapai puncaknya di lagu “Till The End” yang memiliki durasi paling lama dibandingkan lagu lain dalam album. Paruh akhir lagu ini dipenuhi oleh melodi gitar dari Hans yang disusupi oleh gemuruh musikal dari band Chapterhouse.
Pada akhirnya Whitler Post melalui album debut mereka ini sukses dalam menyajikan musik berbasis gitar yang terdengar indah dengan sensibilitas pop yang kuat.

(Dimas Ario, pengamat musik)

‘Live at Teater Garasi’ Finalis Live Music Award The British Council

Seniman Teater Garasi, Risky Summerbee dan inisiatifnya dalam menggelar acara musik periodik ‘Live at Teater Garasi’ terpilih sebagai finalis Live Music Award sebagai bagian dari Young Creative Entrepreneur Initiative dari The British Council. Selain Risky Summerbee, para pegiat musik finalis Live Music Award yang diadakan The British Council 14-15 April di Jakarta adalah Robin Malau dari ‘Musikator’ (Jakarta), Dian Maya Puspita dari ‘Geeksbible’ (Jakarta), Hardiansyah PS ‘Chamber Celebes’ (Makassar) serta Satria Ramadan ‘SRM Band Management’ (Jakarta).

Sebagai upaya untuk mempromosikan nilai skena musik Indonesia, acara musik periodik ‘Live at Teater Garasi’ saat ini sudah berjalan di tahun kelima. Dimulai sejak tahun 2009, Live at Teater Garasi bermula saat kelompok Risky Summerbee & the Honeythief menggelar konsernya di Teater Garasi dengan tata artistik dan set yang unik hasil kolaborasi tata artistik para seniman Teater Garasi.

Dalam perkembangannya, Live at Teater Garasi yang digagas oleh Risky Summerbee bersama Teater Garasi melakukan kuratorial musik, mengundang musisi atau kelompok musik pilihan untuk menggelar karya di ruang Teater Garasi yang spesifik, mewujudkan pertunjukan musik dengan set artistik yang selalu berubah pada setiap pementasan.
Interaksi yang intim antara musisi dan penonton menjadi ciri khas ajang musik ini. Ruang Teater Garasi yang berkapasitas 300 penonton menjadi tantangan Teater Garasi maupun band yang tampil untuk menyesuaikan konsep pemanggungan mereka dengan ruang yang terbatas namun membuka berbagai kemungkinan.

Tak jarang dalam setiap pergelaran berlangsung pula transfer pengetahuan dari penampil kepada penonton, berupa obrolan atau diskusi santai yang menyegarkan wacana pertunjukan musik, hal yang tidak ditemukan pada acara acara musik lainnya – hal ini justru membedakan ‘Live at Teater Garasi’ dengan acara musik yang lain. Konsep ‘site specific’ dan ruang interaksi inilah yang membuat acara ‘Live at Teater Garasi’ inovatif dan berbeda. Selain menjadi peristiwa budaya ‘Live at Teater Garasi’ diharapkan juga menjadi peristiwa ekonomi dengan digelarnya lapak CD album serta merchandise dari band-band di skena musik Indonesia serta minuman dan makanan ringan dari entitas lain di Jogja. Mulai tahun 2012 Live at Teater Garasi juga didukung oleh studio Pintu Kecil Lab yang merekam audio dan visual pentas-pentas mereka, alhasil memiliki hasil rekaman live yang unik.

Sejak tahun 2009 beberapa nama yang pernah tampil dalam kapasitasnya sebagai kelompok maupun featuring antara lain Risky Summerbee & the Hoeythief, Belkastrelka, Brilliant at Breakfast, Tomi Simatupang, Frau, Kartika Jahja, Sarita Fraya, Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, White Shoes & the Couples Company, Adhitia Sofyan, Adrian Adioetomo, Wangi Hujan, Endah & Rhesa. ‘Live at Teater Garasi’ juga pernah menghadirkan musisi dari luar Indonesia seperti Ned Branchi (Australia) dan Ken Stringfellow (USA).

Live at Teater Garasi akan digelar kembali 3 Mei mendatang dengan tajuk kuratorial ‘Requestioning Cult’ (Mempertanyakan ulang ‘cult’) dengan menghadirkan tiga band Whistler Post (Jakarta), Barefood (Jakarta), FSTVLST (Jogjakarta).

Peluang Bekerja di Teater Garasi

Peluang Kerja

Teater Garasi/Garasi Performance Institute membuka peluang bagi Anda yang berminat menjadi

Staff Keuangan

Dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Berpendidikan minimal D3 Akuntansi. S1 Akuntansi lebih diutamakan.
  2. Berpengalaman bekerja di bidangnya minimal 1 tahun di organisasi nirlaba
  3. Berpengalaman bekerja dalam tim, ulet, dan mampu berkomunikasi dengan baik.
  4. Mampu membuat laporan keuangan program dan laporan keuangan lembaga sesuai standar PSAK-45 (standar keuangan organisasi nirlaba).
  5. Menguasai perpajakan.
  6. Menguasai standar bukti keuangan untuk organisasi nirlaba,
  7. Mampu mengoperasikan komputer (MS word, Excel, Power point, internet) dan software akuntansi.
  8. Berusia 20 – 35 tahun
  9. Berdomisili atau mau berdomisili di Yogyakarta.

Bagi yang berminat, harap mengirimkan surat lamaran melalui pos atau email bersubyek “Staff Keuangan” dengan melampirkan riwayat hidup/CV, foto copy Ijazah, fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)/SIM dan pas foto ukuran 4×6 (2 lembar) paling lambat tanggal 15  Maret 2014.

Surat lamaran ditujukan kepada:

Manajer Operasional Teater Garasi/Garasi Performance Institute
Jln. Bugisan Selatan No. 36 A Tegalkenongo Kasihan Bantul Yogyakarta 55181
Email: garasi@teatergarasi.org Telp: 0274 415 844

9m15s.S01.E06

 

Teman-teman yang baik, bersama ini kami mengundang Anda untuk menghadiri peristiwa 9m15s – Episode #6,

Setelah episode #5 berlangsung Januari lalu di Ark, kini Teater Garasi/Garasi Performance Institute kembali mengadakan 9m15s episode #6 (Sembilan Seperempat/Nine Minutes Fifteen Seconds) yang tak kalah seru dan menarik!

Penampil:
Qolbi, Scholastica W Pribadi, Fira (Tari) | Geek Angels <Andreas Siagian, Marc Dusseiller Dusjagr, Julian Abraham, Budi Prakosa, Roman Mäder> (Interdisiplin) | Doni Agung Setiawan, Febrianus Anggit Sudibyo (Teater)

Waktu & tempat:
Kamis, 6 Maret 2014 | 19.30 – 23.00 WIB |
Studio Teater Garasi | Jl. Bugisan Selatan No 36A Tegalkenongo Bantul Jogja (SMKI ke selatan 500 M, kanan jalan tepi sawah)

9m15s (Sembilan Seperempat/Nine Minutes Fifteen Seconds) merupakan forum pertunjukan bulanan terbuka yang dinisiasi oleh Teater Garasi/Garasi Performance Institute, untuk mewadahi kreator seni yang membutuhkan ruang apresiasi cepat dan fleksible dalam berkarya. Forum ini bisa di akses secara rutin, rileks dan murah oleh para kreator seni untuk bereksperimen, bertukar gagasan atau menyegarkan dirinya dari pola kerja tertentu dalam berkarya.

Format forum:
Peristiwa dimulai 19:30 WIB oleh Pembawa Acara dengan penjelasan acara dan perkenalan penampil dan penonton. Setelahnya dilanjutkan dengan presentasi penampil (individual/kelompok), dilaksanakan dengan durasi maksimal 00:09:15. Di akhir setiap presentasi dilanjutkan umpan balik dari penonton dalam kalimat-kalimat singkat atau kata-kata kunci, dalam waktu 2 menit. Kemudian penampil menyampaikan konsep atau ide yang melatarbelakangi karyanya, dalam waktu 3 menit. Lantas dilanjutkan dengan diskusi lebih mendalam bersama penonton, dalam waktu 15 menit. Setelah rangkaian penampilan dan wicara tiga penampil usai, acara diakhiri dengan ngobrol lepas. Peristiwa berakhir 23:00 WIB.

Terimakasih,
Tim 9m15s

*cp:
9minutes15seconds@gmail.com

**Catatan:
Dikarenakan peristiwa 9m15s tidak hanya berupa penampilan dari para penampil, tetapi disertai dengan diskusi dan presentasi atas latarbelakang penampilan masing-masing penampil. Maka besar harapan kami teman-teman untuk hadir tepat waktu, serta mengikuti rangkaian kegiatan sampai selesai.