19,20,26,27 Oktober 2013, The Juggler’s Tale, Shizuoka Performing Arts Center (SPAC)-Jepang, Disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin

Yudi Ahmad Tajudin menjadi sutradara tamu untuk Shizuoka Performing Arts Center (SPAC), Jepang
Salah satu pendiri dan direktur Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Yudi Ahmad Tajudin, diundang oleh Shizuoka Performing Arts Center (SPAC) di Jepang untuk menyutradai pertunjukan berdasar naskah penulis Jerman Michael Ende, Das Gauklermarchen atau The Juggler’s Tale, yang akan dipentaskan di panggung SPAC selama dua minggu di hadapan kurang lebih 5.000 penonton.

Pertunjukan The Juggler’s Tale merupakan bagian dari program International Production of SPAC, di mana setiap tahun SPAC mengundang sutradara tamu dari luar Jepang untuk menyutradarai pertunjukan di SPAC. Menurut Kazato Saeki dari SPAC, sejak 1999, Shizuoka telah menjadi tuan rumah bagi sejumlah sutradara teater dari berbagai negara dan akhir-akhir ini terutama para sutradara dan seniman terpandang dari Eropa seperti dari Prancis (Claude Regy, Daniel Jeanneteau), Swiss, Jerman dan Itali, juga dari Korea (Lee Youn-taek), Kamerun (Merlin Nyakam) dan Kolombia (Omar Porras).

Yudi adalah seniman Indonesia pertama yang diundang oleh SPAC untuk menyutradarai pertunjukan dalam program International Production tersebut. Menurut Kazato, para penonton dan para seniman di SPAC sangat menyukai pertunjukan Teater Garasi, Je.ja.l.an, yang disutradarai oleh Yudi, yang dipentaskan di Shizuoka Spring Arts Festival yang mereka selenggarakan di tahun 2010. Kemudian di tahun 2013, di bawah kepemimimpin direktur artistik umum, Miyagi Satoshi, SPAC mengundang Yudi untuk menyutradarai produksi The Juggler’s Tale, yang sepenuhnya dimainkan oleh aktor-aktor Jepang dalam bahasa Jepang.

“Ketika teater kami sedang menimbang untuk menggarap The Juggler’s Tale sebagai salah satu produksi baru kami, Yudi adalah orang yang kami anggap sebagai sutradara paling berpotensi untuk menggabungkan intisari dari pertunjukan dengan musik secara efektif,” kata Kazato.

Yudi mengajak musisi Melancholic Bitch yang juga seniman Teater Garasi, Yennu Ariendra, untuk menggarap musik The Juggler’s Tale. Untuk desain cahaya, Yudi mengundang seniman Teater Garasi lain, Ignatius “Clink” Sugiarto, yang telah malang melintang di teater-teater besar di tanah air.

“Tentu saja ini merupakan suatu kehormatan buat saya. SPAC, dengan pergelaran program-program mereka telah menjadi salah satu pusat seni pertunjukan yang kuat di Jepang.” .

Yudi, yang sedang di Shizuoka untuk tahap akhir dari persiapan produksi (tahap pertama di bulan Juli hingga Agustus kemarin), mengatakan bahwa perbedaan bahasa dan kultur menjadi tantangan di produksi ini. Yudi menyutradarai dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Jepang dan sebaliknya oleh seorang interpreter.

Namun perbedaan kultur, menurut Yudi, justru membuat produksi ini bisa semakin kaya; Yudi menjadikan perbedaan kultur antara dirinya, sebagai sutradara Indonesia, dan aktor-aktor Jepang, justru sebagai salah satu pijakan dalam menggarap “Das Gauklermarchen” ini. Bersama music director Yennu Arienda dan penata cahaya Clink Sugiarto, Yudi menggarap karya ini dengan semangat dan kerangka pertunjukan “silang budaya”. Konsep ini disambut baik oleh SPAC dan seniman-seniman Jepang yang terlibat.

SPAC didirikan oleh pemerintah kota Shizuoka pada tahun 1995, menjadikannya pionir dari organisasi seni pertunjukan yang dibiayai publik di Jepang. Selain mengundang seniman internasional, SPAC memiliki sendiri para senimannya (resident artists), staf produksi, tempat pertunjukan dan fasilitas pendukung lainnya. Misi dari SPAC adalah tak hanya memproduksi karya orisinil tetapi juga mengundang kelompok seni atau seniman yang berkualitas (sophisticated) dari negara lain.

 

Jadual Pertunjukan (waktu Jepang )

19 Oktober 2013 pk 15:00, dilanjutkan dengan After Talk dengan Yudi Ahmad Tajudin
20 Oktober 2013 pk 14:00
26 Oktober 2013 pk 15:00
27 Oktober 2013 pk 14:00
2 November 2013 pk 15:00
3 November 2013 pk 14:00

Silakan buka :
http://www.spac.or.jp/13_juggler.html

Featured image : Photo courtesy of SPAC

23-25 Oktober 2013, pk. 19:00, Indonesia Dramatic Reading Festival, di IFI-LIP Yogyakarta

Indonesia Dramatic Reading Festival 2013
-festival pembacaan naskah lakon
“Membaca dan Menulis Ulang Lakon-Lakon 70-an”
IDRF adalah festival pembacaan naskah-naskah lakon berbahasa Indonesia sebagai upaya untuk mengenalkan naskah-naskah lakon terbaru Indonesia kepada publik yang lebih luas. Bisa dikatakan IDRF adalah festival bagi para penulis naskah lakon Indonesia—ajang untuk bertemu, berdiskusi dan mengenalkan naskah lakon terbarunya. IDRF juga bisa dijadikan jembatan antara penulis naskah dengan sutradara maupun kelompok teater. Festival ini adalah festival pertama di Indonesia yang menampilkan pembacaan dan promosi naskah lakon secara terencana dan lebih komprehensif.

Di tahun 2013 ini Indonesia Dramatic Reading Festival kembali digelar. Sejak diselenggarakan pertama kalinya di tahun 2010 festival para penulis lakon ini terus mendapatkan dukungan dari banyak pihak: penulis lakon dan kelompok teater dari berbagai kota, penikmat teater, dan lembaga-lembaga yang peduli dengan perkembangan lakon teater Indonesia seperti Lontar Fondation, IFI, Japan Fondation, dan Yayasan Kelola. Tahun ini IDRF mendapat dukungan dari Program Hibah Karya. Kota penyelenggaraan IDRF pun terus berkembang mencakup: Jogjakarta, Semarang, Bandung, Jakarta dan Lampung.

Sedikit berbeda dengan penyelenggaraan IDRF tahun-tahun sebelumnya, kali ini IDRF mengundang sejumlah penulis bukan untuk menulis lakonnya sendiri melainkan menulis kembali lakon-lakon pilihan IDRF. Hasilnya tetap akan sama: lakon-lakon baru yang dibacakan oleh kelompok-kelompok pembaca pilihan IDRF. Lakon-lakon pilihan ini dihasilkan dari sebuah penelitian atas lakon-lakon tahun 1970-1979 yang tersimpan di Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta.

IDRF 2013 akan diselenggarakan di Jogja dan Jakarta. Lakon-lakon yang diangkat adalah hasil pembacaan ulang atas lakon-lakon 1970-an yang dipilih oleh tim IDRF, dengan jadual sbb:
YOGYAKARTA
Auditorium IFI – LIP
Jl. Sagan No.3, Yogyakarta
23, 24, 25 Oktober 2013 pkl. 19.00-21.30
Tiket: Gratis dengan undangan

Rabu, 23 Oktober 2013
Yuni (Andri Nur Latief)
Oleh Acapella Mataraman
Malin-Malin (Esha Tegar Putra)
Oleh Panitia Biennale Jogja XII

Kamis, 24 Oktober 2013
Oleh Asik-Asik Aja Group
Para Agung (Ibed Surgana Yuga)
Oleh Performance Lab
ummu dan yang bersembunyi di balik cemburu (Shinta Febriany)

Jumat, 25 Oktober 2013
Wot atawa Jembatan (Yudhistira AN Massardi)
Oleh Teater Tangga
Di Luar 5 Orang Aktor (Afrizal Malna)
Oleh Forum Aktor Yogyakarta
JAKARTA
Lobi Teater Kecil
PKJ Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat
3, 4, 5, 6 Desember 2013 pkl. 18.30-19.30
Tiket: Gratis

3 dan 5 Desember 2013
Oleh Lab Teater Ciputat

4 dan 6 Desember 2013
Oleh Stage Corner Community

 

 

17 Oktober 2013, 8pm, Live at Teater Garasi

Live at Teater Garasi

mempersembahkan:
WANGI HUJAN
ADRIAN ADIOETOMO
ADHITIA SOFYAN

17 Oktober 2013. 8pm
HTM: 50k

Reservasi: Hani 0877-1991-1200 atau 0857-4753-2000

Permainan kata kata dalam lirik tidak terpisahkan dengan permainan musik. Dengan visi seperti itu maka lyricist atau musisi dapat menyatukan gagasan yang utuh dalam karya lagu. Mungkin ini terdengar klise, namun kita sering mendengar lagu lagu yang bertolak belakang antara lirik dan musiknya. Lyrical work memerlukan wawasan yang luas serta musikalitas yang menimbang banyak hal. Dalam Live at Teater Garasi kali ini, kita akan mencoba menyimak beberapa karya lirik (karya musik) yang holistik – dengan menyimak permainan ciamik dari musisi cutting-edge Indonesia Wangi Hujan, Adrian Adioetomo, Adhitia Sofyan. (kurator: Rizky Sasono)

WANGI HUJAN
Lupakan bahwa duo ini terdiri dari Erwin Zubiyan (gitaris Risky Summerbee & the Honeythief) dan Luise Aminah Najib (yang pernah mewarnai layar kaca Anda dalam The Voice Indonesia). Yang jelas Wangi Hujan – duo asal Jogjakarta ini – kian lekat dengan aroma folk dengan beragam varian progresi gitar maupun vokalnya. Lagu ‘Pulang’ dan ‘Good Wrong’ adalah beberapa karya awal mereka yang tentunya akan mendapat banyak guliran apresiasi seperti situasi langka yang kita dambakan saat usai hujan pertama.

ADRIAN ADIOETOMO
Vokalis dan gitaris blues bermodalkan album ‘Delta Blues Indonesia’ (2007), ‘Play Standart’ (2010) dan ‘Karat dan Arang’ (2010) ini bukan sembarang pemain blues yang bertebar luas di cafe cafe di Indonesia. Pria asal Jakarta ini mampu menggarap musiknya menerobos koridor blues konvensional sehingga menjadikannya sebagai tokoh blues progresif di tanah Indonesia, dan bermain di bermacam festival musik seperti Jakarta Blues Festival dan Java Jazz.

ADHITIA SOFYAN
Penyanyi ini dikenal sebagai musisi kamar, karena seluruh lagu dalam albumnya direkam secara independen di dalam kamarnya sendiri. Lagunya yang paling dikenal adalah Adelaide Sky yang menjadi salah satu soundtrack untuk film Kambing Jantan: The Movie dan Memilihmu. Albumnya ‘Quiet Down (2009), ‘Forget Your Plan’ (2010), ‘How to Stop Time’ (2012) yang banyak direkamnya dengan format akustik mangajak kita mengembara pada kisah kisahnya baik fiktif maupun tidak. Pria asal Solo dan domisili di Jakarta ini pada tahun 2011 melakukan tur ke Jepang dan dengan rekanannya di negeri Sakura itu sempat mengedarkan album live-performance nya di Jepang secara gratis.

Live at Teater Garasi didukung oleh Ouval Research dan Jakartabeat, Demajors, Ardia FM, Kanal Tigapuluh Radio Online, Mymagz, Pintu Kecil Lab, Gigsplay

——————-
LIVE AT TEATER GARASI adalah sebuah program artist-collective Teater Garasi yang bersifat knowledge sharing dalam ranah luas seni pertunjukan. Bertempat di studio Teater Garasi dan melibatkan respon ruang dari artist-collective Garasi Performance Institute, Live at Teater Garasi juga mewujud sebagai ruang ekspresi musik cutting-edge. Beberapa musisi yang pernah tampil di acara ini sejak pertama digelar tahun 2009 adalah Risky Summerbee & the Honeythief, Kartika Jahja, Frau, Ned Branchi, Ken Stringfellow, Brilliant at Breakfast, Belkastrelka, Melancholic Bitch, Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari, White Shoes and the Couples Company

30 September 2013, 9m15s Episode #2 di Studio Teater Garasi

9m15s Episode #2

Bulan September ini, Teater Garasi | Garasi Performance Institute mengadakan lagi 9m15s (Sembilan Seperempat/Nine Minutes Fifteen Seconds). Setelah edisi perdana berlangsung di bulan Agustus yang lalu, kini 9m15s #2 hadir tak kalah seru dan menarik.

9m15s Episode #2 akan diadakan pada :

Hari/tanggal : Senin, 30 September 2013

Waktu              : 19:00 – 22:30 WIB

Tempat           : Studio Teater Garasi

Jl. Bugisan Selatan No 36A Tegalkenongo Bantul Jogja

(SMKI ke selatan 500 M, kanan jalan tepi sawah)

Penampil :

1. Diwa Hutomo

2. FJ. Kunting

3. Teater Tangga

4. Ari Rudenko

Format forum:
Peristiwa dimulai 19:00 WIB oleh Pembawa Acara dengan penjelasan acara dan perkenalan penampil/penonton. Setelahnya silanjutkan dengan presentasi penampil (baik individual/berkelompok), dilaksanakan dengan durasi maksimal 9:15 (sembilan menit lima belas detik). Di akhir setiap presentasi dilanjutkan umpan balik dari penonton dalam kalimat-kalimat singkat atau kata-kata kunci, dalam waktu 2 menit. Kemudian penampil menyampaikan konsep atau ide yang melatarbelakangi karyanya, dalam waktu 5 menit. Lantas dilanjutkan dengan diskusi lebih mendalam bersama penonton, dalam waktu 15 menit dengan kehadiran moderator. Peristiwa diakhiri jam 22:30 WIB.

**Catatan:
Dikarenakan peristiwa 9m15s tidak hanya berupa penampilan dari para penampil, tetapi disertai dengan diskusi dan presentasi atas latarbelakang penampilan masing-masing penampil. Maka besar harapan kami teman-teman untuk hadir tepat waktu, serta mengikuti rangkaian kegiatan sampai selesai.

** Publik terbatas

Teater Garasi Menerima Prince Claus Awards 2013

Teater Garasi Menerima Prince Claus Awards 2013

Teater Garasi/Garasi Performance Institute di usianya yang ke 20 menerima penghargaan prestisius dari Prince Claus Fund, sebuah organisasi terkemuka yang bermarkas di Amsterdam yang mendedikasikan programnya pada kebudayaan dan pembangunan.

Bersama dengan 10 organisasi dan individu lain yang berasal dari, antara lain, Cina, Mesir, Colombia, Pakistan, Trinidad Tobago, Teater Garasi telah dipilih melalui proses seksama oleh komite Prince Claus Awards, yang tahun ini menerima 117 nominasi dari seluruh dunia.

“Kami merasa sangat terhormat menjadi salah satu penerima penghargaan ini karena kami tahu Prince Claus Awards diberikan hanya kepada organisasi atau individu yang berkualitas dan berperan penting di dalam disiplin serta masyarakatnya,” kata direktur umum Teater Garasi, Yudi Ahmad Tajudin. “Yang paling penting bagi kami Prince Claus Awards ini adalah pengakuan atas kerja dan karya kami selama 20 tahun terakhir. Momen pemberian penghargaan ini menjadi lebih dramatik karena kami juga akan merayakan 20 tahun perjalanan Teater Garasi pada Desember tahun ini.”

Prince Claus Awards adalah penghargaan yang ditujukan kepada seniman, kaum intelektual, dan aktivis kebudayaan atas kualitas kerja yang prima dan sumbangsih yang signifikan pada pengembangan lingkungannya. Sejak 1997 Prince Claus Awards memberikan hadiah ini kepada perorangan, grup, dan organisasi di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Kepulauan Karibia. Laureates penghargaaan ini di masa lalu termasuk Sardono W. Kusumo, kurator Jim Supangkat, perupa Heri Dono, penulis Ayu Utami dan seniman seni pertunjukan Slamet Gundono.

Dalam surat keputusan Prince Claus Fund yang dikirimkan kepada Teater Garasi, dituliskan bahwa kualitas merupakan hal tak terbantahkan yang harus dimiliki oleh para penerima penghargaan. Tujuh juri dari komite Prince Claus Awards memutuskan Teater Garasi layak memperoleh penghargaan ini dengan beberapa alasan: “… Atas semangat penjelajahan dan terobosan karya-karya mereka yang merangsang seni pertunjukan di Asia Tenggara; atas karya-karya inovatif mereka yang menggairahkan (vibrant) dan beragam, yang menawarkan pengalaman keterlibatan serta ide-ide yang menantang; atas kemampuan Teater Garasi menerobos batas-batas teater sebagai “seni tinggi” (high-art), menggabungkan yang modern dan yang tradisional, melibatkan publik luas melalui (di dalam) kekuatan seni pertunjukan; dan atas kemampuan Teater Garasi menekankan serta merayakan watak masyarakat Indonesia yang majemuk dan kompleks dalam karya-karya mereka.”

Segala hal di atas yang ditetapkan sebagai penilaian prima kepada Teater Garasi, tak lepas dari identitas Teater Garasi sebagai kolektif seniman lintas disiplin yang menjelajah dan merancang berbagai kemungkinan pertunjukan dan penciptaan seni sebagai bagian dari upaya membaca, menyingkap dan memahami perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Dalam proses pemilihannya, komite Prince Claus Awards menerima nominasi dari berbagai pihak tanpa sepengetahuan para kandidat itu sendiri. Setelah menerima nominasi, komite melakukan penelitian menyeluruh atas para kandidat dengan, salah satunya, mewawancarai banyak orang penting yang dianggap tahu apakah satu kandidat layak atau tidak diberi penghargaan. Untuk tahun ini, Prince Claus Awards memilih kandidat yang sesuai dengan tema Prince Claus Fund yang tahun ini berfokus pada “Culture and Conflict”. Untuk lebih lengkapnya silakan kunjungi: princeclausfund.org