Yang Fana adalah Waktu. Kita AbadiTime is Transient. We are Eternal

Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi adalah karya pertunjukan terbaru Teater Garasi/Garasi Performance Institute yang bertolak dari pembacaan dan refleksi atas ihwal “tatanan” dan “berantakan” (order dan disorder).

Pertunjukan yang disutradarai Yudi Ahmad Tajudin ini adalah pengembangan dan penelusuran lebih jauh dari proyek seni kolektif Teater Garasi yang dilakukan sejak tahun 2008, di antaranya menghasilkan pertunjukan Je.ja.l.an dan Tubuh Ketiga, yang mencoba mempelajari bagaimana ledakan “suara” atau “narasi” (ideologis, agama, identitas) di Indonesia pasca 1998 menciptakan dan menyingkap ketegangan serta kekerasan—yang baru maupun yang terpendam.

Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi pertama kali dipentaskan di Yogyakarta pada bulan Juni tahun 2015 lalu.

Judul pertunjukan dipinjam dari puisi Sapardi Djoko Damono, Yang Fana adalah Waktu (1978).

Sinopsis

Rosnah, mantan buruh migran, adalah perempuan muda yang ingin menjadi ‘artis’ agar bisa bertahan di Jakarta, sebuah kota yang riuh—suara-suara, warna, bau, tubuh-tubuh, bangunan, deru mesin, halte bus dan lalu lintas yang macet. Ia mencari jeda di antara kesibukan survival di Jakarta agar bisa menari. Momen dramatiknya ditandai oleh perayaan Idul Fitri, ketika ia mudik ke rumah orang tuanya. Pada perayaan lebaran itulah, ia menjumpai yang tak-terhindarkan, seluruh peristiwa buruk yang ngotot menyelinap ke dalam potret keluarga: keberangkatan kakak laki-lakinya ke Afganistan, obsesi adiknya untuk mengumandangkan azan di setiap waktu, tempat cuci piring ibunya, minggatnya binatang piaraan keluarga, anaknya yang masih kecil yang terlantar, hobi bapaknya menembaki burung untuk mengisi waktu…

Sementara, seorang pembunuh kucing berkeliaran di luar sana.

Pertunjukan ini adalah kunjungan yang riuh pada kenyataan sehari-hari di Indonesia abad 21. Kekacauan politik di tingkat yang lebih tinggi—perang global, ketidaksetaraan ekonomi, politik negara, ketegangan karena kepercayaan agama—memenuhi keseharian di Indonesia sebagai suara-suara yang saling beradu, dan narasi-narasi yang bersitegang. Sementara trauma kekerasan sejarah terus menghantui bangsa Indonesia.

Dan kita menari di dalam seluruh keriuhan ini.

Time is Transient. We are Eternal is Teater Garasi’s newest production, which departs from the investigation and reflection of ‘order’ and ‘disorder’.

The production, directed by Yudi Ahmad Tajudin, is a further exploration of Teater Garasi’s collective art projects since 2008 that include Je.ja.l.an (The Streets) and Tubuh Ketiga (Third Body), which are an attempt to investigate how the explosion of voices and narratives (ideology, religion, and identity) in post-1998 Indonesia has created and unveiled tension and violence—both new and latent.

Synopsis

A former migrant worker, Rosnah, is an aspiring artist busking to survive in Jakarta, a city full of noises ―voices, colors, smells, bodies, buildings, machines, bus stops, and endless traffic jam. She looks for pauses in between so she can dance. Her time is marked by the annual Lebaran (Eid el-Fitr), when she returns home to her family. Celebrating the festivities, she faces the inevitable, all the slipping moments that persistently try to sneak into the annual family portrait: the departure of his older brother to Afghanistan, her younger brother’s obsession with reciting the call to prayers, her mother’s kitchen sink, the lost of the family’s pet, her abandoned son, her father’s penchant for shooting birds to kill time.

Meanwhile, there is a cat killer out there.

This is a cacophonic tour to the street level of the 21st century Indonesia. The chaos of the politics at the higher places –the global war, economic inequalities, state politics, religious tensions– populates the everyday as competing noises and contesting narratives, while traumatic historical violence continue to haunt in the background.

And we dance while we are in the cacophony.