Di awal tahun 2017, Teater Garasi/Garasi Performance Institute, dengan dukungan Ford Foundation memulai sebuah program bernama Performing Differences—dalam versi Indonesia Teater Garasi menyebutnya dengan AntarRagam—di Madura dan Flores. AntarRagam (Performing Differences) adalah inisiatif baru Teater Garasi dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan dengan seniman dan anak-anak muda di beberapa kota di luar pulau Jawa untuk mengidentifikasi serta memberdayakan modal sosial dan kultural mereka dalam membaca, mendiskusikan serta mementaskan kegelisahan (concern) atas isu perubahan dan keberagaman sosio-kultural di lingkungan masing-masing. Dengan kerangka semacam ini diharapkan suatu proses pertukaran pengetahuan dan proses belajar bersama dapat diberlangsungkan.

Kontak dan pertemuan yang berlangsung sejak tahun 2017 itu menggulirkan sejumlah peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang digagas dan dilakukan oleh mitra-mitra Teater Garasi di Madura, Maumere dan Flores Timur. Di akhir tahun 2017, sejumlah karya dan proyek seni yang dirangkum dalam Seri Pentas AntarRagam berlangsung di kota Bangkalan, Pamekasan, Maumere, dan di desa Lamahala dan Waiburak, Adonara Timur, Flores Timur.

Tahun 2018 ini, Teater Garasi akan mendukung dan bekerja bersama mitra-mitra Teater Garasi di Madura dan Flores dalam menyelenggarakan:

1. Remo Teater Madura
“Berpijak Pada Tanah”
     Di Vihara Avalokiteswara, Pamekasan, 2830 September 2018

Remo Teater Madura (RTM) adalah festival seni pertunjukan dan forum pertemuan antar seniman Madura, baik seniman yang tinggal dan bekerja di Madura maupun seniman yang tinggal dan bekerja di luar Madura (diaspora) guna membangun infrastruktur pengetahuan kesenian yang baik melalui program seperti pertunjukan, pameran, diskusi, dan workshop.

Remo adalah tradisi ‘arisan’ dan/atau ‘pertemuan’ di mana warga dapat membangun hubungan sosial dengan warga lainnya. Remo juga berfungsi sebagai media perkumpulan dalam rangka agenda musyawarah untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi warga.

“Berpijak Pada Tanah” adalah tema utama festival seni pertunjukan ini. Sebagai satu cara seniman Madura untuk (1) ‘terlibat’ dalam wacana dan isu sosial di Madura dan (2) menawarkan diskusi dengan ragam sudut pandang pembacaan atas tanah melalui beberapa karya-karya seniman Madura yang ditampilkan dalam festival.

Remo Teater Madura “Berpijak Pada Tanah” akan diberlangsungkan di Vihara Avalokiteswara Kabupaten Pamekasan, salah satu situs pertemuan kebudayaan yang bersejarah di Nusantara, juga sebagai suatu cara untuk membangun dan menguatkan dialog kebudayaan di dalam masyarakat yang beragam. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman (di) Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan seniman-seniman Madura yang sudah tidak bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad. Tak hanya teater, RTM juga menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop.

2. Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018
     “Pai Taan Tou!”
     Lewolema, 5 – 7 Oktober 2018

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” akan berlangsung di Kecamatan Lewolema Kabupaten Flores Timur. Menampilkan beragam ekspresi seni-budaya masyarakat Flores Timur, kekayaan alam Lewolema, pertunjukan dari komunitas-komunitas seni di Flores Timur, juga pertunjukan tamu dari seniman-seniman dari luar NTT seperti: Darlene Litaay (seniman dan koreografer Papua), Ruth Marini (seniman teater nasional) dan Yasuhiro Morinaga (komposer Jepang), serta Iwan Dadijono (penari dan koreografer dari Yogyakarta).

Nubun Tawa Festival Seni dan Budaya Flores Timur 2018 “Pai Taan Tou!” adalah sebuah format baru, penyegaran dan pengembangan, dari Festival Seni-Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak 2014. Di tahun ini, berdasar pertumbuhan dan evaluasi penyelenggaraan Festival Seni Budaya Flores Timur yang sudah berlangsung sejak tahun 2014, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, bersama Teater Garasi/Garasi Performance Institute, Komunitas Masyarakat  Lewolema dan komunitas seni di Flores Timur merancang bentuk baru festival ini. Perubahan format ini ingin kembali menegaskan bahwa  Festival Seni-Budaya Flores Timur adalah peristiwa budaya, sebuah pesta rakyat, sebuah festival berbasis masyarakat yang mampu mengakomodir potensi desa sebagai lokus hidup masyarakat.

Secara tematik, Nubun Tawa Festival Seni-Budaya Flores Timur lahir dari kesadaran akan pentingnya menghidupkan dan menjaga budaya yang menjadi perekat keberagaman yang ada di bumi Lamaholot Flores Timur.

Nubun Tawa yang bermakna: “lahir/tumbuhnya generasi muda” adalah spirit sekaligus dukungan terhadap generasi muda agar percaya diri serta memiliki keberanian memungut kembali kepingan-kepingan kebudayaan yang dibiarkan mati selama hampir setengah abad. Festival ini diharapkan menjadi gerakan bersama memajukan diri dan masyarakat. Membangun daya hidup, spirit bekerja dan berkarya.

3. MAUMERELOGIA III 2018
“Tsunami Tsunami”
     Maumere, 2 – 10 November 2018

Pada Desember 2017 yang lalu, Komunitas KAHE bekerjasama dengan Teater Garasi/Garasi Performance Institute, mengadakan sebuah kegiatan bertajuk M 7.8 SR: Pameran, Diskusi, dan Pertunjukan (Refleksi Tsunami di Maumere dalam Memori, Perubahan, dan Ancaman). Dalam program ini, Komunitas KAHE mengangkat peristiwa tsunami Flores dan Maumere khususnya sebagai titik pijak refleksi dan eksplorasi kesenian. Tema ini dipilih, didasari oleh kegelisahan para seniman yang terlibat dalam M 7.8 SR (yang rata-rata hidup dalam generasi milenial), terhadap peristiwa tsunami yang kian dilupakan, sekaligus menjadikan refleksi tentang peristiwa tsunami tersebut sebagai teropong untuk melihat keadaan Flores, khususnya Maumere.

Pada tahun 2018 ini, KAHE berencana mengembangkan isi maupun cakupan resepsi dari beberapa bentuk presentasi yang sudah dimulai pada Desember lalu, melalui penerbitan buku antologi tulisan (esai, cerpen, puisi), pertunjukan teater, dan pameran. MAUMERELOGIA III akan melibatkan (mengundang) partisipan yang lebih luas yaitu komunitas teater pelajar dan komunitas seni di Flores dan Timor: Coloteme Art Movement (Kupang), Teater Sesado (Seminari San Dominggo, Hokeng), Teater Evergrande (SMA Syuradikara, Ende), Teater Sun Spirit (Labuan Bajo). Adapun komunitas teater dari Maumere yang akan berpartispasi dalam MAUMERELOGIA III adalah Teater Dala (IKIP Muhammadiyah), Komunitas Teater UNIPA, Teater STFK Ledalero, Teater Refrein (SMAS John Paul II), Teater SMA Frateran, Teater Seminari Bunda Segala Bangsa, Teater SMAN II Maumere, Teater SMAK Alvares Paga, dan Teater SMAK Bhaktiyarsa Maumere.

MAUMERELOGIA adalah sebuah festival sastra, teater dan seni pertunjukan yang diselenggarakan setiap tahun oleh Komunitas KAHE – Maumere. MAUMERELOGIA pertama kali digelar pada tahun 2016, melibatkan komunitas-komunitas teater yang ada di Maumere.

Berawal dari tujuan sederhana, yaitu untuk menciptakan ruang dan medan (uji coba) bagi kreasi serta apresiasi sastra dan teater di kota Maumere, MAUMERELOGIA kini secara sadar coba dibangun sebagai medium produksi pengetahuan, ekspresi argumentasi politis sebagai respon terhadap isu-isu sosial yang ada, terjadi, dan dialami dalam tubuh masyarakat kota Maumere dan NTT pada umumnya. Isu-isu sosial ini juga kemudian diproyeksikan dan direfleksikan dalam konstelasi yang lebih luas, yaitu situasi Indonesia saat ini.

*Informasi lebih lanjut silakan berkunjung ke www.antarragam.net atau akun media sosial Teater Garasi/Garasi Performance Institute.