Melancholic Bitch merilis kembali album baru setelah album terakhir mereka “Balada Joni dan Susi”, 7 tahun lalu. Album terbaru ini diberi judul “NKKBS Bagian Pertama”. Untuk menandai peluncuran album tersebut, diselenggarakan konser pada 9 September 2017 di hall Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM Yogyakarta. Bagi para penggemar musik, konser ini cukup bisa mengobati kerinduan mereka terhadap band Melbi —begitu mereka sering disebut, yang terakhir kali tampil di Jogja tahun 2013 silam.

Selama tujuh tahun terakhir, para personil Melbi berpencar dalam berbagai kesibukan. Ugoran Prasad melanjutkan studi di New York, dan sekarang menghabiskan waktunya antara New York dan Sydney. Sementara Yossy Herman Susilo dan Yennu Ariendra terlibat dalam berbagai proyek pertunjukan terutama dalam kolektif Teater Garasi. Richardus Arditya, secara aktif bermain bass untuk berbagai konser musik dan sempat membuat beberapa album misalnya dengan band Seek Six Sick dan Individual Life. Dalam NKKBS Bagian Pertama ini, mereka mengundang Nadya Hatta untuk terlibat penuh di proses garap di studio. Personil tamu lain dalam penggarapan album ini adalah Danish Wisnu Nugraha (Dacong), yang dikenal sebagai drummer kelompok FSTVLST dan Niskala. Sementara Uya Cipriano, gitaris kelompok Last Elise, turut mendukung konser kali ini.

Rilis pertama dari album ini adalah “Bioskop, Pisau Lipat”, yang sudah dikeluarkan pada 25 Agustus 2017 lalu, sebuah refleksi pengalaman masa kecil Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch atas propaganda Orde Baru untuk menonton film Pemberontakan G30S/PKI dan bagaimana film itu membangun konstruksi tertentu tentang “perempuan liar” dan “pisau lipat”. “Pengalaman digelandang ke bioskop jam 9”, sebagaimana tersebut dalam lagu ini, adalah bagian dari memori kolektif generasi Indonesia yang tumbuh pada 1980an. Beberapa lagu lain yang menjadi andalan adalah “Dapur, NKK/BKK”, yang merujuk pada sejarah Normalisasi Kehidupan Kampus pada 1980an; atau lagu “Selat, Malaka” yang berkisah tentang sepenggal cerita dari kehidupan tokoh Tan Malaka.

Judul album, NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) Bagian Pertama, diambil dari sebuah jargon propaganda masa Orde Baru yang menggambarkan konsep keluarga ideal bagi masyarakat Indonesia. Sepanjang tahun 1980an hingga 1990an, program KB menjadi program andalan pemerintah, yang utamanya bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pada saat yang sama, memasukkan ideologi politik Orde Baru hingga unit terkecil masyarakat yaitu keluarga. Gagasan ini pada mulanya ditelusuri Ugoran dan Yennu lewat keterlibatan mereka di karya pertunjukan Teater Garasi “Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi”. Sebagaimana “Balada Joni dan Susi”, pada NKKBS Bagian Pertama ini seluruh lagu merujuk pada satu narasi besar tentang keluarga, dan segala cerentang dan dinamikanya, termasuk kaitannya dengan peristiwa-peristiwa politik Indonesia 1960an hingga sekarang.

Meski berangkat dari gagasan besar tentang propaganda dan situasi politik yang pekat, tetapi warna musik dari sebelas lagu pada album ini terasa cukup beragam. Di luar liriknya yang keras dan mengagetkan, dan manis dibeberapa bagian, komposisi yang lebih ringan dan riang bisa dijumpai pada beberapa nomor.

Proyek “NKKBS Bagian Pertama” berkolaborasi dengan seniman rupa Akiq AW yang beberapa waktu lalu juga meluncurkan proyek dengan tema yang sama, Indonesian Family Portrait Series.

Selain menampilkan lagu-lagu baru dari Album NKKBS Bagian Pertama, mereka juga akan membawakan beberapa lagu andalan dari album pertama, Anamnesis (2005), dan Balada Joni dan Susi (2009), seperti Tentang Cinta, Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, Mars Penyembah Berhala, dan Nasihat yang Baik.

Single terbaru Melancholic Bitch “Bioskop, Pisau Lipat” bisa didengarkan via Youtube di:
https://youtu.be/4VHTjZfUrKY