ANTARRAGAM Lebih Lanjut

Setelah rangkaian workshop penciptaan (Mei 2017) dan program residensi di Yogyakarta (Juli-Agustus 2017), komunitas kreatif mitra Teater Garasi di Flores dan Madura kemudian membuat proyek penciptaan seni berdasarkan isu dan potensi lokalnya masing-masing. Proyek penciptaan seni dan seluruh rangkaian kegiatan yang menyertainya ini merupakan bagian dari program AntarRagam, inisiatif terbaru Teater Garasi/Garasi Performance Institute.

Dalam kerangka proses penciptaan tersebut, di bulan November ini mitra di Madura dan Flores bersama Teater Garasi memberlangsungkan beberapa agenda kegiatan, sebagai berikut:

Lusia Neti Cahyani (Manajer Program Teater Garasi) berbagi Pendekatan Manajemen Produksi bersama Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan) dan Makan Ati (Pamekasan) di Sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur, kampung Tarogan, Bangkalan, Madura, Jumat 3 November 2017.

Ignatius Sugiarto (Seniman Mukim—Direktur Teknik dan Penata Cahaya—Teater Garasi) berbagi Pendekatan Manajemen Panggung bersama Komunitas Masyarakat Lumpur (Bangkalan) dan Komunitas Makan Ati (Pamekasan), Sabtu 4 November 2017, di Sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur, kampung Tarogan, Bangkalan, Madura. Dan Minggu 5 November 2017, Pak Clink (aka Ignatius Sugiarto) berbagi Pendekatan Tata Cahaya di gedung Pratanu, komplek Kantor Pemerintah Kabupaten Bangkalan.

Workshop Komposisi Musik Bersama Doni Kurniawan (Bassist Risky Summerbee & the Honeythief, LastElise, Penggagas Proyek Pengenalan Musik kepada remaja-remaja “Musik For Everyone”), 4-5 November 2017, di Aula Hotel Pelita Maumere, Sikka, NTT. Agenda ini diselenggarakan bersama Komunitas Kahe, komunitas kreatif mitra Teater Garasi di Maumere-Flores. Peserta workshop tidak hanya komunitas mitra dari Flores (Komuntitas Kahe dan Sanggar SinarRiang), tapi juga seniman dari komunitas mitra di Madura. Pertemuan seniman dari dua kawasan di workshop ini juga menjadi kesempatan untuk menginisiasi pertukaran ragam musikalitas Flores dan Madura.

Selain workshop-workshop di atas, beberapa seniman Teater Garasi juga berkesempatan untuk menemani proses latihan dan perwujudan proyek penciptaan dari masing-masing komunitas kreatif mitra Teater Garasi di Flores dan Madura.

Untuk membaca kabar dan cerita lain dari pertemuan-pertemuan di program AntarRagam silakan berkunjung ke www.antarragam.net.

 

 

Renovasi Studio Teater Garasi


Sejak tanggal 18 September 2017, dengan dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Teater Garasi memulai pengerjaan renovasi studio. Dengan restrukturisasi diharapkan ke depan Teater Garasi akan memiliki mini “black-box”, atau studio kotak dengan fungsi lentur berukuran 7,5 m x 11 m, dengan tata lampu dan suara sederhana, yang cukup memadai untuk kebutuhan ruang pertunjukan dengan skala tersebut.

Dengan cara menyatukan/menggabungkan ruang-ruang yang sebelumnya berfungsi sebagai gudang dan selasar, perubahan struktur ruang ini akan membuat kegiatan latihan, workshop, diskusi dan presentasi karya yang selama ini berlangsung di studio Teater Garasi menjadi sedikit lebih leluasa. Sebagaimana yang terproyeksi di dalam program-program selama ini, studio Teater Garasi adalah ruang yang terbuka untuk komunitas dan publik seni pada umumnya, dan seni pertunjukan pada khususnya. Dengan dukungan infrastuktur studio yang lebih baik, diharapkan ke depannya Teater Garasi lebih bisa menjadi landasan dan ruang yang terbuka bagi diseminasi pengetahuan dan pertumbuhan bersama.

Proses renovasi studio diperkirakan akan selesai pada akhir bulan November. Di seputar bulan Desember 2017, akan diadakan semacam perayaan kecil untuk memperkenalkan dan meluncurkan studio baru. Dalam kegiatan tersebut sekaligus juga akan disampaikan mengenai program, kerangka kuratorial, serta sistem dan mekanisme penggunaan studio dan fasilitas Teater Garasi yang baru.

Workshop dan Diskusi Penciptaan Teater Berdasar Puisi oleh Gunawan Maryanto


Pada akhir Agustus hingga awal September lalu, Gunawan Maryanto, Artistic Associates Teater Garasi, menjadi fasilitator dan pembicara dalam Workshop dan Diskusi Penciptaan Teater Berdasar Puisi, dalam acara International Theatre Exchange Seminar 2017 di Tokyo Metropolitan Teatre (24-27 Agustus) dan Momochi Palace Fukuoka (30 Agustus – 2 September), Jepang. Acara yang diselenggarakan oleh Japan Directors Association ini diikuti oleh kurang lebih tiga puluh satu peserta dari berbagai teater di Jepang.

Pentas Peluncuran Album ke-3 Melancholic Bitch “NKKBS Bagian Pertama”

Melancholic Bitch merilis kembali album baru setelah album terakhir mereka “Balada Joni dan Susi”, 7 tahun lalu. Album terbaru ini diberi judul “NKKBS Bagian Pertama”. Untuk menandai peluncuran album tersebut, diselenggarakan konser pada 9 September 2017 di hall Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM Yogyakarta. Bagi para penggemar musik, konser ini cukup bisa mengobati kerinduan mereka terhadap band Melbi —begitu mereka sering disebut, yang terakhir kali tampil di Jogja tahun 2013 silam.

Selama tujuh tahun terakhir, para personil Melbi berpencar dalam berbagai kesibukan. Ugoran Prasad melanjutkan studi di New York, dan sekarang menghabiskan waktunya antara New York dan Sydney. Sementara Yossy Herman Susilo dan Yennu Ariendra terlibat dalam berbagai proyek pertunjukan terutama dalam kolektif Teater Garasi. Richardus Arditya, secara aktif bermain bass untuk berbagai konser musik dan sempat membuat beberapa album misalnya dengan band Seek Six Sick dan Individual Life. Dalam NKKBS Bagian Pertama ini, mereka mengundang Nadya Hatta untuk terlibat penuh di proses garap di studio. Personil tamu lain dalam penggarapan album ini adalah Danish Wisnu Nugraha (Dacong), yang dikenal sebagai drummer kelompok FSTVLST dan Niskala. Sementara Uya Cipriano, gitaris kelompok Last Elise, turut mendukung konser kali ini.

Rilis pertama dari album ini adalah “Bioskop, Pisau Lipat”, yang sudah dikeluarkan pada 25 Agustus 2017 lalu, sebuah refleksi pengalaman masa kecil Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch atas propaganda Orde Baru untuk menonton film Pemberontakan G30S/PKI dan bagaimana film itu membangun konstruksi tertentu tentang “perempuan liar” dan “pisau lipat”. “Pengalaman digelandang ke bioskop jam 9”, sebagaimana tersebut dalam lagu ini, adalah bagian dari memori kolektif generasi Indonesia yang tumbuh pada 1980an. Beberapa lagu lain yang menjadi andalan adalah “Dapur, NKK/BKK”, yang merujuk pada sejarah Normalisasi Kehidupan Kampus pada 1980an; atau lagu “Selat, Malaka” yang berkisah tentang sepenggal cerita dari kehidupan tokoh Tan Malaka.

Judul album, NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) Bagian Pertama, diambil dari sebuah jargon propaganda masa Orde Baru yang menggambarkan konsep keluarga ideal bagi masyarakat Indonesia. Sepanjang tahun 1980an hingga 1990an, program KB menjadi program andalan pemerintah, yang utamanya bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pada saat yang sama, memasukkan ideologi politik Orde Baru hingga unit terkecil masyarakat yaitu keluarga. Gagasan ini pada mulanya ditelusuri Ugoran dan Yennu lewat keterlibatan mereka di karya pertunjukan Teater Garasi “Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi”. Sebagaimana “Balada Joni dan Susi”, pada NKKBS Bagian Pertama ini seluruh lagu merujuk pada satu narasi besar tentang keluarga, dan segala cerentang dan dinamikanya, termasuk kaitannya dengan peristiwa-peristiwa politik Indonesia 1960an hingga sekarang.

Meski berangkat dari gagasan besar tentang propaganda dan situasi politik yang pekat, tetapi warna musik dari sebelas lagu pada album ini terasa cukup beragam. Di luar liriknya yang keras dan mengagetkan, dan manis dibeberapa bagian, komposisi yang lebih ringan dan riang bisa dijumpai pada beberapa nomor.

Proyek “NKKBS Bagian Pertama” berkolaborasi dengan seniman rupa Akiq AW yang beberapa waktu lalu juga meluncurkan proyek dengan tema yang sama, Indonesian Family Portrait Series.

Selain menampilkan lagu-lagu baru dari Album NKKBS Bagian Pertama, mereka juga akan membawakan beberapa lagu andalan dari album pertama, Anamnesis (2005), dan Balada Joni dan Susi (2009), seperti Tentang Cinta, Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, Mars Penyembah Berhala, dan Nasihat yang Baik.

Single terbaru Melancholic Bitch “Bioskop, Pisau Lipat” bisa didengarkan via Youtube di:
https://youtu.be/4VHTjZfUrKY

“Pusaran Tukar”/ “Nexus of Exchange” Pentas Presentasi Seniman Residensi dan Performer Studio Teater Garasi / Presentation Performance of Teater Garasi’s Artist in Residence and Performer Studio Program

 

Pentas Presentasi Seniman Residensi dan Performer Studio Teater Garasi / Presentation Performance of Teater Garasi’s Artist in Residence and Performer Studio Program

Minggu, 20 Agustus 2017 | 20.00 WIB
Ark Galerie
Jalan Suryodiningratan No. 36 A, Yogyakarta

“Bagaimana Menghilang Sepenuhnya”

Antonius F. Eka Putra Nggalu
Komang Rosie Clynes
Rizky Irwan Wijaya
Syamsul Pranata
Sutradara/Director: Shohifur Ridho’i

“Lupa Untuk Mengingat”

Denta Aditya
Encang Hidayat
Muhammad Eva Nuril Huda
R. Nike Dianita Febriyanti
Sutradara/Director: Imre van den Bosch

Info: Sita 0821 3677 0900

Presentasi ini merupakan tahapan akhir sekaligus penutup program Performer Studio yang telah berlangsung selama 6 minggu sejak bulan Juli 2017.
Performer Studio adalah program belajar keaktoran bagi para penampil pemula, berdasarkan pendekatan keaktoran yang digunakan Teater Garasi selama ini.

Pada periode ini, Performer Studio diikuti oleh Denta Aditya (Yogyakarta), Encang Hidayat (Sukabumi, Jawa Barat), Muhammad Eva Nuril Huda (Yogyakarta), dan Rizky Irwan Wijaya (Yogyakarta). Juga terlibat dalam aktivitas Performer Studio ini, peserta program Seniman Residensi Teater Garasi yaitu Antonius F. Eka Putra Nggalu (Maumere, NTT), Imre van den Bosch (Belanda), Komang Rosie Clynes (Australia), Syamsul Pranata (Sampang, Madura), R. Nike Dianita Febriyanti (Bangkalan, Madura), Veronika Ratumakin (Flores Timur, NTT).

Pentas presentasi ini merupakan simulasi proses penciptaan pertunjukan berdasarkan pendekatan penciptaan Teater Garasi. Imre, salah satu seniman residensi, menginisiasi tema dan menyutradarai satu nomor pertunjukan. Kami juga mengundang Shohifur Ridho’i (sutradara Rokateater, peserta Performer Studio 2013) untuk turut menjadi sutradara dan menawarkan tema yang menjadi perhatiannya.